Jakarta – Sebuah sinyal positif bagi pasar modal Indonesia datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Melalui laporan yang diterima jabarpos.id, OJK mengungkapkan keyakinan kuatnya terhadap prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di masa depan, menyusul tren penguatan yang konsisten dalam sebulan terakhir. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, usai Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada Senin, 3 Agustus 2026.
Friderica membeberkan bahwa pihaknya baru saja menuntaskan pertemuan dengan sekitar 100 investor global di luar negeri. Dalam dialog tersebut, para investor asing menyambut baik berbagai inisiatif reformasi yang digulirkan OJK. Namun, sorotan utama mereka adalah konsistensi implementasi kebijakan tersebut. "Kami berkomitmen penuh untuk menjaga konsistensi ini," tegas Friderica.
Optimisme OJK bukan tanpa dasar. Friderica menyoroti tren perbaikan IHSG yang terlihat jelas dalam sebulan terakhir. Selain itu, aktivitas penggalangan dana atau fundraising di pasar modal Indonesia telah mencapai angka fantastis, menembus lebih dari Rp113 triliun. "Ini adalah kabar baik yang menunjukkan dinamika positif di industri kita," ujarnya.
Also Read
Indikator lain yang menguatkan kepercayaan pasar adalah banyaknya rencana Penawaran Umum Perdana (IPO) yang masih berada dalam pipeline. Ini menandakan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga. Dari sisi basis investor, OJK mencatat lonjakan signifikan. Jika tahun lalu jumlah Single Investor Identification (SID) berada di kisaran 20 juta, kini angkanya telah mendekati 30 juta SID.
Peningkatan jumlah investor ini berbanding lurus dengan kenaikan Asset Under Management (AUM) industri pasar modal. Tak hanya itu, kehadiran produk investasi baru seperti Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas diharapkan mampu lebih jauh mendongkrak minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal domestik.
Mengenai agenda reformasi pasar modal yang telah dicanangkan sejak awal Januari, Friderica mengklaim sebagian besar telah terealisasi, meskipun beberapa masih dalam tahap penyelesaian. Salah satu poin reformasi yang mendapat apresiasi luas adalah penerapan kriteria baru dalam High Suspicious Criteria (HSC) list, dengan penambahan indikator price impact ratio. Kriteria ini terbukti efektif dalam menekan praktik manipulasi perdagangan di pasar modal Indonesia.
Friderica juga menegaskan komitmen kuat OJK dalam penegakan hukum terhadap berbagai kasus pelanggaran di pasar modal. Sejumlah sanksi telah dijatuhkan, dan beberapa di antaranya telah diumumkan kepada publik. "Langkah-langkah ini menunjukkan perbaikan signifikan dan reformasi integritas pasar modal Indonesia yang terus kami upayakan," pungkasnya.






