Ribuan Karyawan Bank Terancam Ini Dalangnya

Author Image

Endang Wulansari

8 Agustus 2026, 21:04 WIB

Industri perbankan global di ambang perubahan besar, dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menghantam sektor ini. Salah satu raksasa keuangan dunia, Standard Chartered, mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran yang akan berdampak pada ribuan karyawannya. Langkah ini, menurut laporan jabarpos.id, dipicu oleh adopsi masif teknologi kecerdasan buatan (AI) yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan profitabilitas.

Bank yang berkantor pusat di London ini berencana memangkas lebih dari 7.000 posisi dalam empat tahun ke depan. Angka ini setara dengan sekitar 15% dari total karyawan di fungsi korporasi mereka, yang saat ini berjumlah sekitar 52.000 orang. CEO Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa ini bukan sekadar upaya penghematan biaya. "Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti human capital bernilai rendah dengan financial capital dan investment capital yang kami tanamkan," jelas Winters.

Ribuan Karyawan Bank Terancam Ini Dalangnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Teknologi AI dipandang sebagai pendorong utama transformasi operasional perusahaan. Tujuannya jelas: meningkatkan profitabilitas, menghadapi persaingan industri keuangan yang semakin ketat, dan mengoptimalkan proses bisnis. Secara global, Standard Chartered memiliki hampir 82.000 pegawai. Pengurangan tenaga kerja akan dilakukan melalui otomatisasi dan implementasi AI. Meskipun demikian, bank juga berkomitmen memberikan kesempatan pelatihan ulang (reskilling) bagi sebagian pegawai yang ingin menyesuaikan diri dengan peran baru.

Posisi yang paling terdampak diperkirakan berasal dari pusat operasional back-office bank, termasuk di kota-kota seperti Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa. Winters menyebut AI akan menjadi fasilitator utama dalam modernisasi sistem inti perbankan perusahaan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Standard Chartered. Bank raksasa Jepang, Mizuho Financial Group, sebelumnya juga telah mengumumkan rencana pengurangan hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade. Ini menandai tren yang lebih luas di mana bank-bank global berlomba mengintegrasikan model AI terbaru, sembari juga menghadapi ancaman siber yang terus meningkat.

Di tengah langkah efisiensi ini, Standard Chartered tetap memasang target pertumbuhan yang agresif. Bank menargetkan return on tangible equity (ROTE) di atas 15% pada 2028 dan meningkat menjadi sekitar 18% pada 2030. Mereka juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih sebesar US$200 miliar menjadi 2028, lebih cepat dari target sebelumnya. Fokus bisnis akan diarahkan pada segmen dengan margin lebih tinggi, seperti nasabah ritel kaya dan institusi keuangan.

Namun, tantangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, tetap menjadi bayangan. Standard Chartered, yang memiliki fokus kuat di kawasan Asia Pasifik dan Afrika, telah menyisihkan provisi kehati-hatian sebesar US$190 juta pada kuartal pertama tahun ini terkait konflik tersebut. Meskipun demikian, Winters tetap optimistis. "Kami sangat tangguh," ujarnya saat ditanya mengenai dampak risiko geopolitik terhadap kemampuan bank mencapai targetnya. Gelombang PHK ini menegaskan bahwa industri perbankan tengah memasuki era baru, di mana efisiensi berbasis teknologi menjadi kunci utama untuk bertahan dan bersaing di pasar global yang semakin dinamis.

Related Post