Pinjaman Maut Mengguncang Raja Ritel Indonesia

Author Image

Endang Wulansari

9 Agustus 2026, 00:04 WIB

Siapa sangka, jaringan ritel raksasa Matahari yang pernah merajai pasar fesyen dan kebutuhan rumah tangga di Indonesia, kini telah berganti kepemilikan. Kisah kejayaan dan keruntuhan sang raja ritel ini penuh intrik, berawal dari sebuah pinjaman besar yang tak terduga. Menurut catatan jabarpos.id, Matahari, yang sempat memiliki 155 gerai di 81 kota, kini berada di bawah kendali keluarga konglomerat.

Perjalanan Matahari bermula dari sebuah toko sederhana bernama Micky Mouse di kawasan Pasar Baru pada tahun 1960. Hari Darmawan, sang perintis, menjajakan pakaian impor sekaligus produk merek buatannya sendiri, MM Fashion, yang diproduksi oleh sang istri. Meskipun bisnis Micky Mouse cukup moncer, Hari selalu memendam rasa iri terhadap toko tetangga, De Zion, yang selalu ramai dikunjungi oleh kalangan berada.

Pinjaman Maut Mengguncang Raja Ritel Indonesia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pada tahun 1968, kesempatan emas datang ketika tersiar kabar bahwa pemilik De Zion ingin menjual tokonya. Dengan tekad bulat dan bermodalkan pinjaman sebesar US$200 juta dari Citibank, Hari Darmawan berhasil mengakuisisi dua gerai De Zion di Jakarta dan Bogor. Nama De Zion, yang dalam bahasa Belanda berarti "Matahari", kemudian diabadikan menjadi nama toko barunya, Matahari.

Untuk mengembangkan Matahari, Hari meniru strategi toko ritel Jepang, Sogo Department Store. Ia ingin Matahari menjadi destinasi belanja yang menyediakan pilihan pakaian selengkap mungkin dengan harga terbaik. Strategi ini terbukti jitu. Matahari berkembang pesat sepanjang dekade 1970-an hingga 1980-an, memperluas jangkauan produknya dari pakaian hingga perhiasan, tas, sepatu, kosmetik, peralatan elektronik, mainan, alat tulis, dan buku. Pada tahun 1990-an, gerai Matahari tersebar hampir di seluruh kota besar di Indonesia, dan pada 1989, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) resmi melantai di bursa saham.

Meski telah menjadi raja ritel, ambisi Hari Darmawan tak pernah padam. Ia bercita-cita membangun 1.000 gerai Matahari dan menjadikannya pusat bisnis ritel terpenting di Tanah Air. Keinginan besar ini menarik perhatian James Riady, seorang bankir muda sekaligus putra dari konglomerat pendiri Lippo Group, Mochtar Riady. James menawarkan pinjaman fantastis sebesar Rp 1,6 triliun kepada Hari dengan bunga rendah, sebuah tawaran yang tak bisa ditolak.

Namun, pinjaman ini menyimpan sebuah kejutan tak terduga. Tak lama setelah dana cair, James Riady meluncurkan bisnis ritelnya sendiri dengan membawa merek ternama asal Amerika Serikat, WalMart, ke Indonesia. Yang mengejutkan, WalMart didirikan persis di depan gerai Matahari, menciptakan persaingan usaha yang sengit. Meskipun demikian, Matahari tetap menunjukkan dominasinya, dan WalMart akhirnya kalah bersaing.

Puncak dari intrik bisnis ini terjadi pada tahun 1996. Saat Matahari berada di puncak kejayaan dengan omzet mencapai Rp 2 triliun, James Riady tiba-tiba mengajukan tawaran untuk membeli seluruh saham Matahari. Hari Darmawan menerima tawaran tersebut, dan sejak saat itu, Matahari resmi menjadi bagian dari Lippo Group. Penjualan ini menimbulkan banyak spekulasi di kalangan publik, mengingat kesuksesan besar Matahari kala itu.

Sejak akuisisi tersebut, nama Hari Darmawan perlahan memudar dari panggung ritel nasional, digantikan oleh era baru Matahari di bawah bendera Lippo Group. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di dunia bisnis, kejayaan bisa berubah arah dalam sekejap, seringkali melalui intrik dan keputusan tak terduga yang mengubah sejarah sebuah merek legendaris.

Related Post