Kunci Sukses KUB BPD Terkuak Bank Jatim Beri Bocoran

Author Image

Endang Wulansari

8 Agustus 2026, 18:04 WIB

Diskusi strategis mengenai masa depan Bank Pembangunan Daerah (BPD) kembali mengemuka dalam Regional Bank Summit 2026. Forum yang digagas CNBC Indonesia ini mempertemukan regulator, pimpinan BPD, dan pemangku kepentingan untuk membahas transformasi kelembagaan BPD dalam mendukung pembangunan dan ekonomi nasional. Menurut laporan jabarpos.id, salah satu topik sentral adalah sinergi melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB).

Agus Haryoto Widodo, Direktur Utama Bank Jakarta sekaligus Ketua Umum ASBANDA, menegaskan relevansi kolaborasi antar-BPD melalui KUB. Ia melihat KUB sebagai instrumen vital untuk memperkuat permodalan, mempercepat ekspansi bisnis, meningkatkan efisiensi dalam pembangunan layanan digital, hingga memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di bank daerah.

Kunci Sukses KUB BPD Terkuak Bank Jatim Beri Bocoran
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, jalan menuju KUB yang sukses tidak tanpa hambatan. Agus Haryoto Widodo juga menyoroti beberapa tantangan signifikan, termasuk perbedaan visi dan kepentingan antar-BPD, kesiapan modal dan teknologi yang bervariasi, serta kekhawatiran akan hilangnya identitas masing-masing BPD setelah bergabung.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, memberikan pandangannya. Ia menekankan bahwa keberhasilan perbankan tidak hanya ditentukan oleh modal semata, melainkan juga tata kelola, sistem, teknologi, dan SDM. Oleh karena itu, kesuksesan KUB BPD tidak bisa hanya diukur dari pencapaian modal Rp 3 triliun. Bank Jatim menggarisbawahi pentingnya kesepakatan visi dan misi yang jelas di antara anggota KUB. Selain itu, manfaat KUB harus dipastikan saling menguntungkan bagi setiap anggota melalui sinergi ekosistem bisnis yang terintegrasi.

Pembahasan juga meluas ke penguatan kerja sama antara BPD dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) melalui konsep Community Bank. jabarpos.id mencatat bahwa Bank Jatim melihat tantangan dalam sinkronisasi target bisnis yang belum selaras dan potensi biaya yang tinggi. Untuk mengatasi ini, disarankan agar BPR dan BPD dapat berbagi segmen pasar dalam penyaluran kredit dan bersinergi dalam layanan digitalisasi. Bank Jakarta menambahkan bahwa potensi kerja sama ini sangat baik jika diletakkan dalam struktur yang tepat, di mana BPD memiliki sumber daya yang lebih baik dan BPR memiliki akses ke segmen mikro. Sinergi dapat diwujudkan melalui program terhubung (linked program) yang tidak mengalihkan risiko secara sepihak.

Diskusi mendalam dalam Regional Bank Summit 2026 ini diharapkan dapat merumuskan strategi konkret bagi transformasi dan pengembangan bisnis BPD di masa mendatang.

Related Post