jabarpos.id, Jakarta – Para petani kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia kini menghadapi situasi genting yang mengancam pasokan minyak sawit mentah (CPO) global. Lonjakan harga bahan bakar dan kelangkaan pasokan telah mengganggu aktivitas panen secara signifikan di sentra-sentra produksi utama seperti Kalimantan dan Sumatra, memaksa petani swadaya mengurangi frekuensi panen dan memicu kekhawatiran serius terhadap industri ini.
Kenaikan harga solar nonsubsidi, terutama di negara bagian Sabah dan Sarawak, Malaysia, telah melonjak hampir 120%, membuat biaya operasional membengkak tak terkendali. Sementara itu, para petani di Sumatra, Indonesia, bergulat dengan kelangkaan bahan bakar yang parah sejak pertengahan Juli. Kondisi ini diperparah oleh lokasi perkebunan kelapa sawit yang luas dan terpencil di Kalimantan, menyulitkan petani untuk mengumpulkan dan mengangkut tandan buah segar ke titik pengumpulan atau pabrik pengolahan.
Napolean R Ningkos dari Asosiasi Pekebun Kelapa Sawit Dayak Sarawak mengungkapkan, kendala finansial ini membuat kegiatan panen menjadi tidak ekonomis bagi petani. Akibatnya, banyak lahan terancam telantar dan produktivitas minyak sawit di wilayah tersebut akan menurun drastis. Ia menyoroti bahwa kuota subsidi solar yang ada, 200 liter per bulan, jauh dari cukup untuk kebutuhan operasional rata-rata petani yang mencapai setidaknya 500 liter, apalagi dengan medan berat di pedalaman Sabah dan Sarawak.
Also Read
"Petani terpaksa mengurangi frekuensi panen mereka, dari sekitar 2,5 putaran menjadi hanya 1,5 atau bahkan satu kali panen setiap bulannya," ujar Napolean. Ia menambahkan, kuota subsidi saat ini, yang dirancang untuk kondisi lahan yang relatif datar di Malaysia Barat, tidak memadai untuk wilayah pedalaman dengan medan berat.
Dampak ini sangat krusial mengingat Sabah dan Sarawak secara gabungan menyumbang hampir 44% dari total produksi CPO Malaysia, yang merupakan kontributor vital bagi pasokan minyak sawit dunia. Sementara itu, Sumatra berkontribusi 55% terhadap produksi minyak sawit Indonesia. Gangguan di wilayah-wilayah ini berarti ancaman nyata bagi pasokan global, yang banyak digunakan dalam berbagai produk mulai dari minyak goreng hingga produk rumah tangga.
Raphael Golout, Presiden United Sabah Smallholders Association, yang mewakili para pemilik perkebunan rakyat, menambahkan bahwa beban finansial yang lebih berat tidak hanya berasal dari biaya transportasi yang meningkat, melainkan juga dari pengeluaran yang lebih besar untuk generator listrik dan mesin-mesin lainnya.
Situasi semakin diperparah dengan potensi fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini. Kondisi iklim ini diperkirakan akan mengurangi curah hujan dan menurunkan hasil panen. Pengalaman El Nino yang parah pada tahun 2015 dan 2016 telah memangkas produksi minyak kelapa sawit di Malaysia hingga 18%, sementara produksi Indonesia turun sebesar 3%. Kekhawatiran ini muncul seiring dengan naiknya harga bahan bakar global dan menipisnya pasokan sejak konflik geopolitik di Timur Tengah meletus.
Di Sumatra, salah satu pusat utama minyak kelapa sawit Indonesia, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, menjelaskan bahwa kegiatan petani terhambat akibat pasokan solar yang terbatas sejak pertengahan Juli. "Pengangkutan tandan buah petani terdampak karena semua kendaraan dan peralatan menggunakan mesin diesel," katanya. Masalah ini telah menyebabkan perpanjangan interval panen menjadi delapan hingga 12 hari, dibandingkan dengan periode biasanya yang berkisar antara delapan hingga 10 hari.
Para pemimpin petani mendesak adanya revisi terhadap kebijakan subsidi solar agar lebih mencerminkan tantangan geografis dan ekonomi yang dihadapi oleh para petani di Sabah dan Sarawak. Tanpa intervensi yang memadai, penundaan masa panen dapat mengurangi hasil panen di Sarawak sebesar 15% hingga 20%, memperburuk krisis yang sudah di depan mata.






