Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa lesu pada perdagangan Rabu kemarin, meninggalkan level psikologis 6.400. Menurut data yang dihimpun jabarpos.id, meskipun investor asing secara agregat mencatatkan pembelian bersih (net buy) yang signifikan, tekanan jual justru mendominasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, memicu koreksi IHSG sebesar 0,86% dan menutup perdagangan di level 6.394,13.
Fenomena ini cukup menarik perhatian para pelaku pasar. Di satu sisi, total net buy asing tercatat mencapai Rp933,5 miliar. Namun, angka tersebut ternyata sangat dipengaruhi oleh satu transaksi jumbo pada saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSSA), yang mencatat net buy asing sekitar Rp1,47 triliun. Jika transaksi DSSA ini tidak diperhitungkan, maka sejatinya investor asing lebih banyak melakukan aksi jual pada saham-saham domestik lainnya, mengindikasikan sentimen yang lebih berhati-hati.
Aksi lepas saham oleh investor asing paling kentara terlihat pada PT Astra International Tbk (ASII), dengan nilai jual bersih mencapai Rp73,2 miliar. Disusul oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang mencatat net sell asing Rp49 miliar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp47,5 miliar, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang juga tak luput dari tekanan jual asing sebesar Rp44,3 miliar.
Also Read
Beberapa saham besar lainnya juga menjadi sasaran penjualan. PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencatat net sell Rp42,1 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp39,7 miliar, dan PT Indosat Tbk (ISAT) dengan nilai jual bersih Rp38,4 miliar.
Kondisi ini mengirimkan sinyal penting bagi para investor. Meskipun data agregat menunjukkan net buy, tekanan jual yang terfokus pada saham-saham utama mengindikasikan adanya kehati-hatian atau bahkan potensi koreksi lebih lanjut di pasar. Investor perlu mencermati pergerakan ini, terutama jika transaksi jumbo seperti DSSA dikesampingkan dari perhitungan, untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai sentimen pasar yang sebenarnya.





