PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) mengumumkan rencana strategis pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 250 miliar. Keputusan ini, seperti dilansir jabarpos.id dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (20/8/2026), diambil bukan karena penurunan kinerja fundamental perusahaan, melainkan sebagai respons terhadap anjloknya harga saham perseroan yang mencapai 57% hingga 19 Agustus 2026.
Penurunan signifikan ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga mencatatkan koreksi sekitar 26% secara year-to-date. Manajemen CBDK menilai bahwa kondisi pasar saat ini membuat harga saham perseroan belum sepenuhnya mencerminkan nilai intrinsik dan fundamental yang kuat.
Langkah buyback diharapkan mampu meredam tekanan jual di pasar di tengah volatilitas indeks dan harga saham. Selain itu, aksi korporasi ini juga menjadi sinyal kuat bagi investor bahwa manajemen melihat adanya nilai yang belum terefleksikan pada harga saham perusahaan saat ini. "Pembelian kembali saham adalah respons Perseroan terhadap fluktuasi pasar modal, terutama pergerakan IHSG yang dipengaruhi sentimen eksternal," demikian pernyataan manajemen.
Also Read
Perseroan juga meyakini bahwa buyback akan membantu menjaga keseimbangan antara fundamental perusahaan dan dinamika pasar, serta memberikan fleksibilitas dalam mengelola struktur permodalan jangka panjang. Saham yang dibeli kembali akan menjadi saham treasuri yang berpotensi dimanfaatkan atau dijual kembali di masa mendatang dengan nilai optimal, jika perusahaan membutuhkan tambahan modal.
Dari aspek keuangan, manajemen CBDK memastikan bahwa aksi korporasi ini tidak akan berdampak negatif secara material terhadap operasional maupun kondisi finansial perseroan. Perusahaan menegaskan memiliki modal, saldo kas, dan arus kas yang memadai untuk membiayai buyback tanpa mengganggu kebutuhan kegiatan usaha lainnya.
Berdasarkan data per Juni 2026, laba komprehensif yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat stabil di angka Rp 1,68 triliun, bahkan setelah buyback. Namun, total aset perseroan diproyeksikan sedikit menurun dari Rp 22,221 triliun menjadi sekitar Rp 21,97 triliun, seiring penggunaan dana Rp 250 miliar. Demikian pula total ekuitas, diperkirakan turun dari Rp 13,470 triliun menjadi sekitar Rp 13,220 triliun.
Menariknya, meskipun aset dan ekuitas mengalami penyesuaian, laba per saham (EPS) CBDK justru diproyeksikan meningkat. Dari Rp 297,34 per saham sebelum buyback, EPS diperkirakan naik menjadi Rp 300,95 per saham, atau bertambah Rp 3,61. Peningkatan juga terlihat pada tingkat pengembalian modal (LTM-ROE), dari 18,8% menjadi 19,1% secara proforma. Ini menunjukkan efisiensi modal yang lebih baik dengan jumlah saham beredar yang lebih sedikit.
Manajemen CBDK menegaskan bahwa sumber dana untuk buyback murni berasal dari optimalisasi kas internal perusahaan. Dana ini bukan hasil dari penawaran umum perdana saham (IPO) maupun pinjaman atau utang dalam bentuk apa pun. Perseroan menjamin bahwa pendanaan ini tidak akan mengganggu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo.
"Pembelian saham kembali Perseroan akan dilaksanakan dengan harga yang dianggap baik dan wajar, serta sesuai dengan peraturan yang berlaku," tutup manajemen, menggarisbawahi komitmen perusahaan terhadap tata kelola yang baik dan nilai bagi pemegang saham.





