Ekonomi Indonesia Terancam Rupiah Bisa Goyang

Author Image

Endang Wulansari

24 Agustus 2026, 08:04 WIB

Indonesia saat ini menghadapi tekanan serius akibat pelebaran defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD), yang menjadi indikator kuat akan besarnya kebutuhan dana asing di dalam negeri. Data terbaru yang dihimpun jabarpos.id menunjukkan, transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 12,5 miliar, atau setara 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh melebar dibandingkan kuartal I-2026 yang hanya US$ 3,6 miliar atau 1% PDB.

Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menjelaskan bahwa tekanan pada transaksi berjalan ini mengisyaratkan kebutuhan pembiayaan Indonesia dari luar negeri yang semakin besar. "Persoalannya saat ini bukan kekurangan buffer, melainkan kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia yang menjadi lebih besar," kata Irman. Meski demikian, dari sisi stabilitas eksternal, Irman menilai kondisi masih cukup terjaga, terlihat dari posisi cadangan devisa pada akhir Juni yang mencapai US$ 145,6 miliar, cukup untuk membiayai sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Ekonomi Indonesia Terancam Rupiah Bisa Goyang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial justru mencatat surplus sekitar US$ 12,0 miliar, didukung oleh investasi asing langsung (FDI) dan aliran portofolio yang masih stabil. Namun, permasalahan utama yang memicu pelebaran CAD adalah defisit migas yang meningkat akibat harga minyak global yang tinggi, surplus nonmigas yang mengecil seiring kenaikan impor, serta pembayaran pendapatan primer yang lebih besar.

Ketika CAD semakin melebar, permintaan struktural terhadap mata uang asing juga akan meningkat, yang harus dibiayai oleh FDI maupun aliran portofolio. Kondisi ini, menurut Irman, akan memunculkan risiko terhadap nilai tukar rupiah. Selama akun finansial mampu menghasilkan arus masuk yang cukup besar seperti pada kuartal II-2026, tekanan terhadap rupiah masih dapat diredam. "Tetapi kalau CAD tetap lebar sementara aliran portofolio melemah akibat penguatan dolar, kenaikan imbal hasil obligasi AS, atau sentimen risk-off global, maka keseimbangan valas domestik akan kembali mengetat dan rupiah menjadi lebih sensitif terhadap shock eksternal," paparnya.

Irman Faiz mengidentifikasi bahwa sebagian pelebaran CAD pada kuartal II-2026 bersifat siklikal, namun ada komponen struktural yang perlu diwaspadai. Harga minyak yang tinggi memperbesar kebutuhan impor energi, sementara kebutuhan impor barang modal dan proyek investasi juga meningkat. Terkait upaya pemerintah mengurangi impor energi melalui implementasi B50, ia mengakui hal itu dapat mengurangi impor diesel, namun pada saat bersamaan, penggunaan CPO domestik yang lebih besar berpotensi mengurangi kapasitas ekspor. "Karena itu, kami masih memperkirakan CAD sepanjang 2026 berada di sekitar 1,5% PDB, lebih lebar dibandingkan tahun sebelumnya," tegas Irman.

Dengan CAD yang melebar, yang menandakan Indonesia makin "haus" dana asing, implikasinya adalah ruang penguatan rupiah tetap terbatas dan volatilitas akan relatif masih ada. Level Rp18.000 per dolar AS ia anggap masih sangat mungkin kembali diuji, terutama apabila tekanan global kembali meningkat atau aliran dana asing tidak cukup besar untuk menutup kebutuhan pembiayaan eksternal. "Baseline kami masih melihat USD/IDR akhir tahun di kisaran Rp17.900-18.150, sehingga Rp18.000 bukan merupakan tail-risk scenario, tetapi masih berada dalam range fundamental kami," tuturnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Permata Bank, Faisal Rachman. Ia sepakat bahwa tekanan CAD sepanjang tahun ini memang akan membesar. Hal ini diakibatkan oleh impor yang lebih tinggi di bawah agenda pemerintah yang pro-pertumbuhan, serta pelemahan ekspor di tengah lesunya permintaan global dan ketegangan geopolitik serta perdagangan yang berlanjut. "Pembengkakan CAD berpotensi menekan neraca pembayaran Indonesia, terutama karena arus modal masuk transaksi finansial masih berada dalam tekanan di tengah tingginya ketidakpastian global yang memicu sikap kecenderungan menghindari risiko," jelas Faisal.

Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan menjaga permintaan domestik dan mendorong pertumbuhan impor yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, melemahnya permintaan global, khususnya dari Tiongkok, serta ketegangan geopolitik yang berlanjut di Timur Tengah dan perang dagang global dapat menekan kinerja ekspor. "Oleh karena itu, kami memproyeksikan CAD akan membengkak menjadi 2,5-3,0% dari PDB pada tahun 2026, dari 0,11% dari PDB pada tahun 2025," ungkap Faisal.

Faisal bahkan menganggap, kemampuan Indonesia untuk memperoleh kondisi transaksi finansial surplus seperti kuartal II-2026 ke depannya cenderung akan lebih menghadapi tantangan. Arus modal portofolio diperkirakan tetap rentan terhadap ketidakpastian global maupun domestik. Secara global, ketidakpastian seputar perkembangan geopolitik di Timur Tengah akan terus membayangi arah kebijakan The Fed, mengingat tingginya harga energi dapat menahan inflasi AS di atas target 2% dalam jangka waktu yang lebih lama. Ini dapat memperkuat sentimen risk-off dan membatasi arus modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap "defisit kembar" (twin deficits) Indonesia juga meningkat, mencerminkan risiko pelebaran CAD dan defisit fiskal yang lebih besar di bawah kerangka kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan serta ketergantungan yang makin tinggi pada kebijakan fiskal sebagai mesin utama pertumbuhan dan penahan gejolak ekonomi (shock absorber).

Di tengah kondisi ini, sentimen investor diperkirakan akan tetap berhati-hati. Oleh karena itu, arus masuk investasi portofolio diproyeksikan tetap terbatas, sementara nilai tukar Rupiah berpotensi tetap fluktuatif. Bank Indonesia diperkirakan akan terus memanfaatkan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas mata uang dalam jangka pendek hingga menengah. "Secara keseluruhan, kami memproyeksikan cadangan devisa akan menurun ke kisaran US$ 143-147 miliar pada akhir tahun 2026, dari US$ 156,47 miliar pada akhir tahun 2025. Kami juga mempertahankan proyeksi nilai tukar Rupiah pada akhir tahun 2026 berada dalam kisaran Rp17.800-Rp18.000 per Dolar AS," pungkas Faisal.

Related Post