Haji Isam Incar BYAN Manajemen Akhirnya Buka Suara

Author Image

Endang Wulansari

24 Agustus 2026, 04:04 WIB

Jakarta – Rumor panas mengenai potensi akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), emiten batu bara raksasa milik Low Tuck Kwong, oleh pengusaha kawakan Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, telah mengguncang pasar modal. Spekulasi yang beredar luas menyebutkan Haji Isam berencana mengambil alih sekitar 62,2% saham perseroan. Menanggapi desas-desus yang kian santer, manajemen BYAN akhirnya angkat bicara melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 18 Agustus 2026. Informasi ini juga telah diterima oleh jabarpos.id.

Corporate Secretary BYAN, Jenny Quantero, dengan tegas menyatakan bahwa hingga saat ini, Perseroan tidak memiliki informasi atau mengetahui adanya rencana pengambilalihan dan/atau akuisisi saham sebagaimana yang ramai dibicarakan di publik. Namun, ia menambahkan sebuah catatan penting: pemegang saham pengendali Perseroan telah menyampaikan bahwa dari waktu ke waktu, sebagai investor, mereka dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi mereka di BYAN.

Haji Isam Incar BYAN Manajemen Akhirnya Buka Suara
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Manajemen BYAN juga memastikan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kinerja keuangan Perseroan. Pernyataan ini diharapkan dapat menenangkan kekhawatiran para investor terkait potensi gejolak.

Menurut rumor yang beredar, Haji Isam disebut-sebut akan mengakuisisi sekitar 62,2% dari total saham BYAN. Berdasarkan data perusahaan, jumlah saham BYAN mencapai 33.333.335.000 lembar. Jika porsi 62,2% saham tersebut dihitung menggunakan harga penutupan BYAN pada perdagangan 18 Agustus 2026 sebesar Rp17.275 per saham, maka jumlah saham yang perlu dibeli sekitar 20,73 miliar lembar.

Secara matematis, nilai pembelian saham tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp358,17 triliun. Penting untuk dicatat, angka ini merupakan estimasi berdasarkan harga pasar dan bukan nilai transaksi akuisisi yang sebenarnya. Jika transaksi akuisisi blok pengendali benar-benar terjadi, harga yang disepakati dapat berbeda dari harga pasar yang berlaku.

Jenny Quantero kembali menegaskan, "Sampai dengan tanggal Surat ini, Perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan dan/atau akuisisi sekitar 62,2% saham Perseroan oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam." Ia juga menambahkan bahwa BYAN tidak memiliki informasi mengenai pihak-pihak yang terlibat, struktur transaksi, porsi saham yang akan dialihkan, maupun nilai transaksi sehubungan dengan informasi mengenai rencana pengambilalihan dan/atau akuisisi saham tersebut.

Menariknya, laporan kepemilikan saham BYAN per 31 Juli 2026 menunjukkan bahwa Dato’ Low Tuck Kwong menguasai 40,251% saham, sementara Elaine Low memegang 22,002%. Jika kedua kepemilikan ini digabungkan, totalnya mencapai sekitar 62,253%, sebuah angka yang sangat mendekati porsi 62,2% yang muncul dalam rumor akuisisi tersebut. Hal ini memberikan konteks mengapa angka tersebut menjadi fokus spekulasi di pasar.

BYAN berkomitmen penuh untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan ketentuan Bursa Efek Indonesia, termasuk kewajiban menyampaikan keterbukaan informasi apabila terdapat informasi atau fakta material lainnya yang wajib diungkapkan kepada publik dan dapat mempengaruhi kelangsungan usaha atau harga saham Perseroan. Hingga saat ini, Perseroan menyatakan tidak ada informasi atau kejadian material lain yang belum diungkapkan kepada publik.

Related Post