Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan signifikan pada Selasa, 1 September. Rupiah melemah tajam, mencapai Rp 17.715 per Dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu menguat tipis ke 6.577 pada pukul 10:05 WIB. Kondisi ini tak lepas dari dinamika global dan domestik yang kompleks, demikian dilaporkan jabarpos.id.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. Situasi ini, terutama di Selat Hormuz, langsung memicu kenaikan harga minyak mentah global. Imbasnya, harga batu bara juga ikut terdorong naik di pasar komoditas berjangka, mencerminkan kekhawatiran pasokan di tengah gejolak tersebut.
Di sisi lain, pelemahan Rupiah juga diperparah oleh data ekonomi domestik. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia yang menunjukkan penurunan turut berkontribusi pada sentimen negatif investor terhadap mata uang Garuda, mengindikasikan perlambatan aktivitas sektor industri.
Also Read
Sementara itu, harga emas justru mengalami tekanan jual. Hal ini terjadi seiring dengan ekspektasi pasar akan potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang cenderung membuat aset non-bunga seperti emas kurang menarik di mata investor.
Analisis lebih mendalam mengenai gejolak pasar ini sebelumnya telah diulas oleh Serliana Salsabila dan Shafinaz Nachiar dalam program Profit di CNBC Indonesia.






