Pasar modal Indonesia bersiap menyambut gelombang baru perusahaan yang akan melantai. Sebanyak tujuh entitas bisnis kini berada dalam daftar antrean Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya merupakan perusahaan berskala besar, siap menambah dinamika pasar. Informasi ini disampaikan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, seperti dilansir jabarpos.id pada Selasa.
Saidu Solihin merinci, calon emiten-emiten ini berasal dari beragam sektor vital, mencakup energi, kesehatan, dan industri. Jika dilihat dari kapitalisasi aset, pipeline IPO BEI menunjukkan komposisi yang bervariasi. Dua perusahaan dikategorikan beraset kecil (di bawah Rp50 miliar), dua lainnya beraset menengah (antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar), dan yang paling menarik perhatian adalah tiga perusahaan beraset besar, dengan nilai di atas Rp250 miliar.
Hingga saat ini, BEI telah berhasil mencatatkan tujuh perusahaan baru di tahun berjalan, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Angka ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada Agustus tahun sebelumnya, BEI sukses membukukan 22 pencatatan saham perdana, dengan akumulasi dana mencapai Rp10,39 triliun.
Also Read
Perlambatan ini tidak hanya terlihat dari kuantitas perusahaan yang melantai, tetapi juga dari pola waktu pencatatannya. Sepanjang tahun 2026, aktivitas IPO cenderung terkonsentrasi pada bulan April dan Juli, meninggalkan beberapa bulan lainnya tanpa adanya emiten baru yang masuk ke bursa.
Salah satu nama terbaru yang siap meramaikan lantai bursa adalah PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP). Perusahaan manufaktur yang fokus pada produk kesehatan berbasis riset ini telah menyelesaikan masa penawaran awal pada 24-27 Agustus 2026. SWAP dijadwalkan akan resmi mencatatkan sahamnya di BEI pada 10 September 2026, menambah daftar emiten di sektor kesehatan.






