Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok, diiringi pelemahan signifikan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada perdagangan Senin (14/09). Kondisi ini, menurut analisis jabarpos.id, dipicu oleh kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran pasar global akan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).
Memanasnya situasi di Timur Tengah, khususnya setelah laporan serangan di Arab Saudi, telah menciptakan sentimen negatif di kalangan investor. Peristiwa ini memicu ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan stabilitas ekonomi. Di sisi lain, spekulasi mengenai kenaikan suku bunga The Fed juga menjadi momok utama. Bank sentral Amerika Serikat tersebut diperkirakan akan mengambil langkah agresif untuk mengendalikan inflasi, yang pada gilirannya dapat menarik modal keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Pada penutupan sesi II perdagangan Senin (14/09), IHSG tercatat melemah 1,76%, merosot tajam ke level 6.426. Bersamaan dengan itu, nilai tukar Rupiah juga tertekan, mencapai Rp 17.660 per Dolar AS, menunjukkan adanya arus keluar modal yang signifikan dari pasar domestik.
Also Read
Analisis lebih lanjut mengenai pergerakan pasar keuangan Indonesia, seperti yang dibahas dalam program Power Lunch CNBC bersama FX Analyst Elvan Chandra Widyatama, menyoroti pentingnya mencermati perkembangan global. Para analis memandang bahwa tekanan ini kemungkinan akan berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda, menuntut kewaspadaan tinggi dari para pelaku pasar.






