Ultrajaya Akuisisi Frisian Flag Pengendali Baru Muncul

Author Image

Endang Wulansari

19 September 2026, 02:04 WIB

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) membuat gebrakan besar di industri susu nasional. Produsen susu terkemuka ini berencana mengakuisisi 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI) dengan nilai fantastis mencapai Rp14,57 triliun. Langkah strategis ini, seperti dilaporkan jabarpos.id, akan mengubah peta persaingan dan kepemilikan di sektor produk olahan susu. Transaksi jumbo ini akan dieksekusi melalui skema penyetoran modal non-tunai atau inbreng, yang dibarengi dengan penerbitan saham baru ULTJ melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV atau rights issue. Dampak paling signifikan, FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH) akan muncul sebagai pengendali baru ULTJ.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis ULTJ pada Jumat (18/9/2026), nilai inbreng yang disepakati mencapai Rp14,57 triliun. Dalam rights issue ini, ULTJ berencana menerbitkan maksimal 7,88 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham dan harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp2.150 per saham. Sebanyak sekitar 6,78 miliar saham baru dialokasikan khusus untuk pelaksanaan inbreng kepada para pemegang saham FFI, sebagai bagian dari pembayaran atas pengambilalihan 24.440 saham FFI, yang setara dengan 100% kepemilikan.

Ultrajaya Akuisisi Frisian Flag Pengendali Baru Muncul
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Saat ini, FFI dimiliki oleh tiga entitas: FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH) dengan porsi 78,09%, Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd. (BWG) sebesar 16,91%, dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa (BWI) sebesar 5%. Dengan rampungnya transaksi ini, FCIH secara otomatis akan menjadi pemegang saham pengendali baru di ULTJ. Konsekuensinya, FCIH akan diwajibkan untuk melakukan penawaran tender wajib (mandatory tender offer/MTO) atas saham ULTJ yang beredar di publik, sesuai dengan regulasi pasar modal yang berlaku.

Pergeseran kepemilikan ini tentu akan membawa dampak pada struktur pemegang saham ULTJ. Dalam skenario di mana hanya FCIH, BWG, dan BWI yang melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya, FCIH diperkirakan akan menguasai sekitar 30,81% saham ULTJ pasca PMHMETD IV. Sementara itu, kepemilikan Sabana Prawirawidjaja, yang saat ini menjadi pemegang saham pengendali ULTJ dengan 53,17%, akan terdilusi menjadi sekitar 32,19%. Jika seluruh pemegang saham ULTJ, termasuk investor publik, turut serta melaksanakan HMETD, porsi kepemilikan FCIH akan tercatat sekitar 28,95%, BWG 6,27%, dan BWI 1,85%.

Bagi pemegang saham ULTJ yang memilih untuk tidak melaksanakan HMETD, potensi dilusi maksimum diperkirakan mencapai 43,11%. Namun, manajemen ULTJ menegaskan bahwa tidak dilaksanakannya HMETD oleh pemegang saham publik tidak akan menghambat proses pengambilalihan FFI. Hal ini karena transaksi utama dilakukan melalui mekanisme inbreng saham FFI oleh FCIH, BWG, dan BWI, yang merupakan inti dari kesepakatan ini.

Dalam keterangan resminya, manajemen ULTJ menyatakan, "Perseroan bermaksud untuk melakukan PMHMETD IV, di mana penggunaan dana atas Rencana PMHMETD IV akan digunakan antara lain untuk pengambilalihan seluruh saham FFI dari Pemegang Saham FFI melalui mekanisme penyetoran 100,00% saham FFI oleh Pemegang Saham FFI ke dalam Perseroan sebagai setoran modal ke dalam Perseroan dalam bentuk lain selain uang (inbreng)." Akuisisi ini dipandang sebagai langkah strategis ULTJ untuk memperkuat posisinya di pasar produk susu olahan yang kompetitif, sekaligus membuka babak baru dalam sejarah kedua perusahaan raksasa ini.

Related Post