IHSG Merah di Penghujung Pekan

Author Image

Endang Wulansari

19 September 2026, 02:31 WIB

jabarpos.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa mengakhiri perdagangan jelang akhir pekan di zona merah. Setelah pergerakan fluktuatif sepanjang hari, indeks acuan ini terkoreksi tipis 0,33% atau setara 21,27 poin, mengakhiri sesi di level 6.441.

Perjalanan IHSG hari ini cukup berliku. Sempat dibuka pada level 6.512,57, indeks kemudian bergerak tak menentu sebelum akhirnya didominasi sentimen negatif. Level tertinggi sempat disentuh di 6.521,02, namun tekanan jual menyeretnya hingga menyentuh level terendah 6.419,50 sebelum sedikit rebound di penutupan.

IHSG Merah di Penghujung Pekan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan dominasi saham yang melemah. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 212 emiten yang berhasil menguat, sementara mayoritas, yakni 464 saham, harus tumbang. Sebanyak 287 saham lainnya stagnan. Total volume transaksi tercatat mencapai 31,72 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 19,24 triliun.

Mengutip analisis Stockbit, aktivitas transaksi di seluruh pasar mencapai 325,81 juta lot, dengan nilai total Rp 19,25 triliun dan frekuensi mencapai sekitar 1,92 juta kali. Pasar reguler menjadi tulang punggung dengan volume 291,76 juta lot dan nilai Rp 17,3 triliun. Sementara itu, transaksi di pasar negosiasi tercatat 34,05 juta lot senilai Rp 1,95 triliun, dan pasar tunai yang relatif kecil dengan 640 lot senilai Rp 18,96 juta.

Penurunan IHSG tak lepas dari tekanan beberapa sektor. Data Refinitiv menyoroti sektor konsumer primer sebagai penekan terbesar dengan penurunan 1,27%, diikuti oleh sektor properti yang melorot 1,2%, dan sektor kesehatan yang terkoreksi 1,18%. Sejumlah saham raksasa turut menjadi beban utama, di antaranya PT Amman Minerals Tbk (AMMN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Di sisi lain, beberapa emiten berhasil memberikan sedikit topangan, seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM).

Padahal, pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG sempat menunjukkan sinyal positif, melaju di jalur hijau dengan penguatan 0,76% ke level 6.511,5. Momen tersebut didorong oleh lonjakan saham BYAN yang melesat signifikan 19,96% ke posisi Rp 13.835, serta kinerja beberapa emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Haji Isam.

Sentimen eksternal global juga menghadirkan dinamika yang kompleks. Di satu sisi, Wall Street berhasil rebound pada perdagangan Kamis, dengan Dow Jones naik 0,61%, S&P 500 menguat 1,14%, dan Nasdaq Composite melonjak 1,69%. Penguatan ini didukung oleh penurunan imbal hasil US Treasury dan harga minyak. Data klaim tunjangan pengangguran AS yang turun di bawah ekspektasi juga mengindikasikan pasar tenaga kerja yang masih solid, memberikan angin segar bagi aset-aset berisiko.

Namun, kekhawatiran geopolitik dan kebijakan moneter masih membayangi. Harga minyak Brent, meskipun terkoreksi sekitar 1%, masih bertahan di atas US$100 per barel karena risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah yang terus memanas. Eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi, serta penurunan tajam lalu lintas kapal di Selat Hormuz, menjadi perhatian serius. Dari Eropa, Bank of England (BoE) memilih mempertahankan suku bunga di 3,75% meski inflasi Inggris meningkat, sembari menyoroti potensi kenaikan harga energi.

Sementara itu, pasar Asia juga menantikan sejumlah agenda penting. Jepang menjadi sorotan dengan rilis data inflasi Agustus dan keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ). Pasar memprediksi BoJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%, sebuah langkah yang ber

Related Post