Kredit Perbankan Tumbuh Pesat di Tengah Gejolak

Author Image

Endang Wulansari

23 Oktober 2026, 18:31 WIB

Jabarpos.id – Sektor perbankan nasional menunjukkan performa yang sangat impresif di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa penyaluran kredit perbankan mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 13,26 persen pada periode September 2026. Angka ini bukan sekadar pertumbuhan biasa, melainkan sebuah pencapaian tertinggi yang berhasil diraih dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Fenomena ini menjadi sangat menarik karena terjadi di saat gejolak ekonomi global sedang meningkat, yang secara teori dapat memperbesar risiko ekonomi di dalam negeri. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Ketahanan ekonomi domestik yang kokoh terbukti mampu menjadi perisai sekaligus motor penggerak bagi sektor keuangan nasional.

Kredit Perbankan Tumbuh Pesat di Tengah Gejolak
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Mal Isnaini Sri Meyyanti, menjelaskan bahwa ekspansi kredit yang masif ini merupakan cerminan dari optimisme para pelaku usaha. Menurutnya, para pengusaha melihat adanya peluang besar dari berbagai sumber pertumbuhan ekonomi yang tersedia, salah satunya adalah performa ekspor non-minyak dan gas bumi (non-migas) yang terus menunjukkan tren positif.

"Prospek pertumbuhan itu memang nyata adanya. Hal ini didukung kuat oleh kinerja ekspor non-migas kita yang juga meningkat. Inilah yang menjadi fondasi utama mengapa kredit kita bisa tumbuh pesat, dan kami berkomitmen untuk terus menjaga momentum ini agar tidak melambat," ujar Yanti dalam sesi taklimat media di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Lebih lanjut, Yanti menekankan bahwa lonjakan kredit ini memberikan sinyal kuat mengenai kebangkitan sektor swasta. Hal ini terlihat dari kontribusi sektor swasta yang mendominasi pertumbuhan, yakni menyumbang sebesar 11 persen poin terhadap total pertumbuhan kredit. Sementara itu, program-program strategis dari pemerintah memberikan kontribusi sekitar 2 persen poin. Dominasi sektor swasta ini menjadi indikator bahwa mesin ekonomi di luar program pemerintah sedang bekerja dengan sangat baik.

Guna memastikan tren positif ini terus berlanjut dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan, Bank Indonesia telah menyiapkan serangkaian langkah strategis. Salah satu kebijakan utama adalah penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi Bank Umum Konvensional secara bertahap, dari angka 9 persen menjadi 7 persen. Penurunan ini akan dilakukan dalam dua tahap, yakni mulai 1 November 2026 dan 1 Desember 2026.

Langkah serupa juga diterapkan bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, di mana GWM akan diturunkan dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen melalui skema penurunan bertahap. Kebijakan ini merupakan bagian dari penyesuaian Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang bertujuan untuk memperlancar aliran likuiditas ke masyarakat.

Selain itu, BI juga memberikan insentif khusus bagi perbankan yang menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas. Sektor-sektor tersebut meliputi pertanian, industri hilirisasi, jasa kreatif, konstruksi, real estate, hingga pemberdayaan UMKM dan koperasi. Dengan adanya insentif ini, diharapkan perbankan semakin agresif dalam mendukung sektor-sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja luas, sehingga ekonomi nasional tetap tumbuh stabil di tengah tantangan global.

Related Post