Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Author Image

Endang Wulansari

25 Oktober 2026, 21:04 WIB

Jabarpos.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah berada dalam situasi yang cukup mengkhawatirkan. Mata uang Garuda dilaporkan terus mengalami tekanan hebat akibat dominasi penguatan dolar AS di pasar global. Kondisi ini membuat posisi rupiah bergerak di kisaran angka psikologis yang cukup tinggi, yakni menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Refinitiv, meskipun sempat terjadi sedikit koreksi penguatan sebesar 0,03% yang membawa rupiah ke posisi Rp18.040/US$ pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026), tren pelemahan secara keseluruhan masih sangat terasa. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026), rupiah sempat merosot tajam sebesar 0,25%. Fenomena ini sejalan dengan pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang terus merangkak naik. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tersebut tercatat menguat 0,19% ke level 101,802 pada pagi hari.

Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menanggapi fenomena ini, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI), Firman Mochtar, memberikan penjelasan mendalam mengenai akar permasalahan yang terjadi. Menurutnya, salah satu pemicu utama adalah lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury yang kini telah melampaui angka 5 persen. Kondisi ini menciptakan daya tarik yang sangat kuat bagi para investor global untuk memarkirkan dana mereka di instrumen keuangan Amerika Serikat.

"Ketika imbal hasil US Treasury tumbuh di atas 5 persen, persepsi investor terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, cenderung menurun. Hal ini memicu lonjakan permintaan terhadap dolar AS, yang pada akhirnya mendorong indeks dolar atau DXY terus menguat," ujar Firman dalam sebuah sesi taklimat media di Jakarta.

Lebih lanjut, Firman menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar terhadap negara-negara maju secara otomatis akan memberikan efek domino terhadap mata uang negara berkembang. "Jika dolar menguat secara global, maka mata uang negara berkembang akan mengalami pelemahan, tidak terkecuali rupiah kita," tambahnya.

Selain faktor eksternal berupa kebijakan moneter Amerika Serikat, tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor domestik. Firman menyoroti adanya dinamika terkait pengumuman MSCI mengenai diskusi pasar saham Indonesia untuk menjadi standalone market. Perubahan status atau kebijakan dalam klasifikasi pasar ini diduga turut memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia.

Kombinasi antara tekanan global dari penguatan dolar dan tekanan domestik dari pergerakan modal inilah yang secara simultan menekan nilai tukar rupiah. Para pelaku pasar kini tengah memantau dengan saksama langkah-langkah kebijakan yang akan diambil oleh otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak semakin terperosok lebih dalam. Melansir laporan jabarpos.id, situasi ini menjadi sinyal waspada bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian pasar global.

Related Post