Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali diguncang arus pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan tajam hingga menyentuh angka 2 persen pada sesi kedua perdagangan Selasa (27/10/2026). Berdasarkan pantauan data pasar, indeks sempat merosot ke level 5.265,50 pada pukul 14.29 WIB, sebuah penurunan yang cukup dalam dibandingkan posisi sebelumnya.
Kondisi pasar sejak pagi hari sebenarnya sudah menunjukkan sinyal yang kurang menggembirakan. IHSG dibuka di level 5.357,97, sedikit di bawah angka penutupan pada hari sebelumnya. Meski sempat memberikan harapan dengan menyentuh level tertinggi harian di angka 5.418,14 pada sesi pagi, namun momentum penguatan tersebut tidak mampu bertahan lama. Menjelang pukul 10.00 WIB, arah pergerakan indeks berbalik arah menjadi merah dan terus merosot secara konsisten.
Tekanan jual yang masif semakin terasa saat memasuki sesi siang. Setelah sempat tertahan dalam fase konsolidasi atau bergerak mendatar di kisaran 5.340 hingga 5.360 pada rentang waktu pukul 10.30 hingga 13.00 WIB, IHSG kembali dihantam tekanan hebat menjelang pukul 14.00 WIB. Indeks bahkan sempat menyentuh titik terendah harian di level 5.264. Tercatat, volume transaksi perdagangan mencapai 215,64 juta lot dengan nilai transaksi yang sangat besar, yakni menembus Rp8.422,18 miliar.
Also Read
Berdasarkan data dari Refinitiv, penyebab utama merosotnya IHSG kali ini dipicu oleh kinerja buruk di beberapa sektor utama. Sektor infrastruktur menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan anjlok hingga 5,8 persen. Disusul oleh sektor teknologi yang melemah 2,9 persen, serta sektor energi yang juga mengalami koreksi sebesar 2,2 persen. Beberapa saham berkapitalisasi besar seperti BBRI, TLKM, BMRI, BREN, dan BYAN turut menjadi pemberat utama dalam penurunan indeks ini.
Kondisi pasar keuangan domestik saat ini memang tengah dibayangi oleh berbagai sentimen kompleks, baik dari faktor global maupun domestik. Di kancah internasional, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian utama investor. Upaya diplomasi yang dilakukan oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan melalui pertemuan di Teheran untuk meredakan konflik dengan Iran memberikan dinamika tersendiri bagi pasar. Meskipun ada harapan perdamaian, ancaman serangan dari pihak-pihak tertentu dan ketidakpastian kebijakan politik di Amerika Serikat membuat investor tetap dalam mode waspada.
Hal ini juga berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia. Harga minyak Brent dan WTI mengalami koreksi setelah sebelumnya sempat melonjak tinggi. Penurunan harga energi ini secara langsung memengaruhi sentimen pada saham-saham sektor energi di dalam negeri.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) sebenarnya tengah berupaya memperkuat fondasi pasar melalui berbagai kebijakan baru. Mulai dari pengetatan pengawasan transaksi mencurigakan hingga perubahan mekanisme penghitungan indeks untuk saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) yang akan berlaku mulai 2 November 2026. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor dalam jangka panjang, meskipun dalam jangka pendek pasar masih harus menghadapi volatilitas yang tinggi. Melansir laporan dari jabarpos.id, para pelaku pasar kini tengah menanti arah kebijakan ekonomi China dan perkembangan stabilitas global sebagai penentu arah IHSG selanjutnya.






