Strategi BRI Perkuat Nilai Saham

Author Image

Endang Wulansari

27 Oktober 2026, 12:04 WIB

Jabarpos.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) menegaskan optimisme terhadap masa depan perusahaan. Berdasarkan kondisi fundamental yang sangat solid, bank pelat merah ini yakin mampu menjaga tren pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Keyakinan ini tidak hanya sekadar pernyataan, melainkan dibuktikan melalui langkah nyata perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi para pemegang sahamnya.

Salah satu strategi utama yang terus dijalankan oleh BRI adalah melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Langkah ini diambil sebagai bentuk kepercayaan manajemen terhadap nilai intrinsik perusahaan di tengah dinamika pasar yang sering kali fluktuatif. Melalui serangkaian aksi korporasi ini, BRI berupaya menjaga stabilitas harga saham sekaligus memperkuat struktur permodalan perusahaan.

Strategi BRI Perkuat Nilai Saham
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Catatan mengenai aksi buyback ini telah disetujui oleh pemegang saham sejak Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Maret 2025 lalu. Saat itu, pemegang saham memberikan mandat kepada manajemen untuk melakukan pembelian kembali saham dengan nilai maksimal mencapai Rp3 triliun. Aksi ini dapat dilakukan secara bertahap maupun sekaligus, baik melalui bursa efek maupun di luar bursa, sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Memasuki tahun 2026, BRI menunjukkan konsistensinya meskipun kondisi pasar global sedang mengalami ketidakpastian. Berdasarkan keterbukaan informasi, BRI telah mengalokasikan dana sebesar Rp500 miliar untuk pelaksanaan buyback tahap pertama pada periode Juni hingga September 2026. Tak berhenti di situ, perusahaan juga telah menyiapkan dana sebesar Rp1 triliun untuk tahap kedua yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2026 hingga Januari 2027.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa kebijakan buyback secara bertahap ini merupakan bagian dari strategi optimalisasi nilai bagi pemegang saham. Namun, ia menekankan bahwa langkah ini tetap dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang, dengan tetap mengutamakan kecukupan modal dan prinsip kehati-hatian.

"Langkah ini mencerminkan keyakinan kami terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Kami tetap mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik serta memperhatikan kondisi keuangan secara menyeluruh," ujar Dhanny dalam keterangan tertulisnya.

Ia juga menambahkan bahwa keputusan ini sangat mempertimbangkan berbagai faktor eksternal, seperti ketidakpastian ekonomi global, tensi geopolitik, hingga fluktuasi harga komoditas yang memengaruhi arus modal di pasar keuangan Indonesia.

Jika menilik performa keuangan, BRI menunjukkan angka yang sangat impresif. Hingga akhir triwulan II 2026, bank ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun. Pertumbuhan aset juga terlihat signifikan, di mana total aset melonjak 11,7% secara tahunan menjadi Rp2.352 triliun. Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,7% menjadi Rp1.581 triliun, sementara penyaluran kredit meningkat pesat sebesar 16,2% menjadi Rp1.646 triliun.

Kekuatan finansial BRI juga didukung oleh rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang berada di level 21,5% dan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 90,8%. Dengan posisi likuiditas yang sangat sehat ini, BRI merasa memiliki ruang yang luas untuk terus menjalankan fungsi intermediasi dan mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di masa depan.

Related Post