IHSG Melompat Tinggi di Tengah Aturan Baru

Author Image

Endang Wulansari

3 November 2026, 06:04 WIB

Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang luar biasa pada perdagangan Senin (2/11/2026). Meski sempat mengalami gejolak yang cukup tajam di awal sesi, pasar akhirnya berhasil menutup perdagangan dengan penguatan signifikan sebesar 0,79% atau naik 39,78 poin ke level 5.096,83.

Perjalanan indeks hari ini tergolong sangat dinamis dan penuh drama. Sejak bel pembukaan berbunyi, IHSG langsung mengalami tekanan jual yang kuat hingga sempat merosot ke level 4.980-an. Penurunan ini sempat memicu kekhawatiran investor karena indeks harus menembus level psikologis 5.000. Namun, momentum berbalik dengan cepat. Menjelang pukul 10.00 WIB, indeks mulai merangkak naik dan kembali masuk ke zona hijau.

IHSG Melompat Tinggi di Tengah Aturan Baru
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penguatan tersebut terus berlanjut hingga IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di atas 5.120 pada sesi pertama. Walaupun sempat terjadi koreksi di tengah hari, indeks tetap mampu bertahan di rentang 5.080 hingga 5.120 hingga penutupan pasar. Secara keseluruhan, volume perdagangan mencapai 286,06 juta lot dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp10,07 triliun.

Sektor utilitas menjadi primadona hari ini dengan lonjakan fantastis mencapai 9,86%. Selain itu, sektor bahan baku (basic materials) turut menyumbang kenaikan sebesar 2,57%, diikuti oleh sektor jasa pendidikan sebesar 1,22%, dan sektor energi yang tumbuh 0,38%. Beberapa saham yang menjadi motor penggerak kenaikan antara lain BREN, BUMI, BRMS, CASA, dan DSSA. Di sisi lain, saham seperti MORA, AADI, TLKM, DCII, dan BYAN justru menjadi beban yang menahan laju kenaikan indeks.

Perdagangan hari ini juga menandai babak baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini adalah hari pertama implementasi kebijakan baru di mana BEI mengeluarkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Sebanyak 81 saham dengan bobot sekitar 18% resmi dikecualikan, sehingga kini hanya tersisa 837 saham yang diperhitungkan dalam indeks. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk stabilitas dan tidak akan memicu fluktuasi ekstrem karena bobot saham yang keluar akan didistribusikan kembali ke konstituen lainnya.

Menatap pekan ini, para investor disarankan untuk tetap waspada terhadap sejumlah rilis data ekonomi penting. Di dalam negeri, perhatian tertuju pada rilis data inflasi Oktober 2026 oleh BPS serta data PMI Manufaktur Indonesia. Sementara dari pasar global, perhatian dunia tertuju pada pemilu sela di Amerika Serikat yang akan menentukan arah kebijakan politik dan fiskal AS, serta rangkaian data tenaga kerja AS yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Kondisi manufaktur China juga menjadi variabel penting yang dapat memengaruhi sentimen pasar regional.

Related Post