Ubah Sampah Jadi Saldo Rekening

Author Image

Endang Wulansari

7 November 2026, 12:31 WIB

Jabarpos.id – Masalah sampah yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan kini mulai bertransformasi menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Melalui inovasi terbaru, masyarakat kini tidak hanya berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga bisa meraup keuntungan finansial dari limbah yang mereka hasilkan. Langkah revolusioner ini diinisiasi oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) melalui pengembangan konsep ekonomi sirkular.

Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, mengungkapkan bahwa pengembangan Waste Station merupakan bagian dari strategi besar perseroan untuk memperluas peran mereka. Jika selama ini BTN identik dengan pembiayaan perumahan, kini bank pelat merah tersebut tengah bertransformasi menjadi pengembang ekosistem yang mendukung kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

Ubah Sampah Jadi Saldo Rekening
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Sekarang BTN sudah melangkah lebih jauh dari sekadar pembiayaan perumahan (Beyond Mortgage). Fokus kami bukan hanya mengelola hunian, tetapi juga membangun seluruh ekosistem pendukungnya," ujar Hermita dalam keterangan resminya.

Salah satu bukti nyata dari komitmen ini adalah peresmian Waste Station yang berlokasi di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara BTN dengan pemerintah daerah. Melalui fasilitas ini, masyarakat dapat menyetorkan sampah anorganik mereka dan mengubahnya menjadi nilai ekonomi yang langsung masuk ke rekening BTN.

Secara teknis, masyarakat dapat menyetorkan berbagai jenis sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca, hingga limbah elektronik melalui aplikasi Rekosistem. Setiap sampah yang disetorkan akan ditimbang dan dikonversi menjadi poin berdasarkan jenis serta beratnya. Poin inilah yang nantinya dapat dicairkan menjadi uang tunai.

Langkah ini menjadi sangat krusial mengingat data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024 menunjukkan bahwa sampah rumah tangga menyumbang angka yang sangat besar, yakni sekitar 50,8% dari total 33,79 juta ton timbulan sampah nasional. Hal ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu pemukiman.

BTN sendiri telah memetakan lima ekosistem utama yang akan dikembangkan, meliputi sektor pemerintah daerah, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan. Kelima sektor ini dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan hunian dan aktivitas harian masyarakat yang secara otomatis menghasilkan sampah.

Di Purwokerto sendiri, Waste Station memiliki kapasitas pengumpulan rata-rata mencapai 4 ton sampah per bulan. Fasilitas ini beroperasi setiap hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIB. Keberhasilan ini menyusul jejak Waste Station BTN di Situbondo yang telah berhasil mengumpulkan sekitar 6,8 ton sampah anorganik.

Ke depan, BTN tidak hanya ingin sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi benar-benar mengelolanya. Selain memperluas jangkauan ke sampah organik, BTN juga berkomitmen memberdayakan generasi muda melalui pelatihan inovasi pengolahan sampah serta mempertemukan mereka dengan pelaku usaha melalui skema business matching. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi menjadi masalah, melainkan mesin uang baru bagi masyarakat.

Related Post