Eks Pakar Google Tak Mau Nabung Pensiun

Author Image

Endang Wulansari

7 November 2026, 15:31 WIB

Jabarpos.id – Dunia teknologi saat ini tengah diguncang oleh perdebatan sengit mengenai masa depan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Di tengah euforia kemajuan teknologi yang dianggap mempermudah hidup, muncul sebuah peringatan keras dari dalam industri itu sendiri. Nate Soares, seorang mantan pakar AI yang pernah berkarier di raksasa teknologi Google dan Microsoft, melontarkan pernyataan mengejutkan yang membuat banyak orang berpikir ulang tentang masa depan.

Soares mengungkapkan bahwa ia telah berhenti menyisihkan uang untuk dana pensiun sejak sekitar satu dekade lalu. Keputusan finansial yang ekstrem ini bukan didasari oleh gaya hidup boros, melainkan karena sebuah ketakutan eksistensial: ia merasa umat manusia mungkin tidak akan bertahan cukup lama untuk menikmati masa tua akibat ancaman AI.

Eks Pakar Google Tak Mau Nabung Pensiun
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dalam sebuah sesi podcast bersama CEO The Atlantic, Nicholas Thompson, Soares memprediksi bahwa kemungkinan AI memicu kepunahan manusia dalam sepuluh tahun ke depan mencapai angka lebih dari 50 persen. "Saya rasa saat ini kita mungkin tidak punya waktu satu dekade lagi," ungkap Soares dengan nada serius.

Kekhawatiran Soares bukanlah tanpa dasar. Saat ini, ia menjabat sebagai presiden di Machine Intelligence Research Institute (MIRI), sebuah organisasi nirlaba di Berkeley yang fokus meneliti risiko pengembangan AI terhadap keberlangsungan hidup manusia. Pandangan yang ia bawa sering disebut sebagai AI doomerism, sebuah paham yang meyakini bahwa penciptaan AI supercerdas dapat menjadi senjata makan tuan yang memusnahkan peradaban.

Menariknya, Soares menegaskan bahwa fokus ketakutannya bukanlah pada isu pengangguran massal akibat otomatisasi. Ia justru melihat risiko tersebut jauh lebih kecil dibandingkan ancaman kepunahan total. Menurutnya, jika skenario terburuk terjadi, manusia mungkin justru akan berada dalam kondisi lapangan kerja yang penuh sesaat sebelum akhirnya seluruh umat manusia musnah.

Menanggapi keraguan bahwa AI saat ini masih memiliki banyak keterbatasan, Soares memberikan analogi yang sangat menarik. Ia membandingkan perkembangan AI dengan transisi dari penggunaan kuda ke mobil. Ia berpendapat bahwa jika kuda bisa melihat perkembangan mobil di masa awal, mereka mungkin akan meremehkan teknologi tersebut karena dianggap belum bisa melakukan segalanya. Namun, kenyataannya, teknologi terus berkembang melampaui ekspektasi.

Sebagai solusi untuk mencegah bencana global ini, Soares mengusulkan adanya pembatasan ketat dalam pengembangan AI, terutama pada upaya meningkatkan skala kecerdasan agar melampaui manusia. Ia setuju jika AI digunakan untuk tujuan mulia, seperti membantu riset medis untuk menemukan obat kanker. Namun, ia sangat menentang ambisi manusia untuk menciptakan mesin yang mampu meniru dan melampaui kecerdasan manusia secara utuh.

Melansir laporan dari jabarpos.id, peringatan Soares ini menjadi pengingat bagi para pengembang teknologi dan pembuat kebijakan bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan AI, terdapat risiko eksistensial yang harus dikelola dengan sangat hati-hati sebelum terlambat.

Related Post