Misteri Penyebab Rupiah Terus Melemah

Author Image

Endang Wulansari

8 November 2026, 04:04 WIB

Jabarpos.id – Kondisi nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan pengamat ekonomi di tanah air. Di tengah simpang siur berbagai sentimen global, muncul spekulasi bahwa perubahan status pasar saham Indonesia oleh MSCI menjadi biang keladi utama pelemahan mata uang Garuda. Namun, benarkah demikian?

Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memberikan perspektif berbeda mengenai fenomena ini. Menurutnya, sentimen negatif terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebenarnya bukan merupakan faktor fundamental utama yang menyebabkan rupiah melemah. Ia menilai, dampak dari perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market lebih bersifat sektoral dan terbatas pada pasar modal saja.

Misteri Penyebab Rupiah Terus Melemah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Irman menjelaskan bahwa meskipun isu MSCI sempat memicu kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan menyebabkan aksi jual bersih oleh investor asing hingga mencapai angka triliunan rupiah, hal tersebut tidak secara otomatis menguras cadangan devisa atau merusak stabilitas nilai tukar secara fundamental. Berdasarkan studinya, setiap aliran modal keluar sebesar US$100 juta dari pasar saham hanya memberikan dampak depresiasi rupiah yang relatif kecil, yakni berkisar antara Rp11 hingga Rp12.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa investor seringkali melakukan rotasi aset. Artinya, ketika mereka menjual saham, uang tersebut tidak selalu langsung dibawa keluar dari Indonesia, melainkan diputar kembali ke instrumen keuangan lain yang dianggap lebih aman di dalam negeri.

Lantas, apa musuh sebenarnya yang membuat rupiah kian tertekan? Irman menunjuk faktor geopolitik sebagai ancaman yang jauh lebih nyata dan berbahaya. Ketegangan geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, menciptakan efek domino yang sangat luas terhadap ekonomi dunia.

Konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah global yang kemudian mendorong inflasi di berbagai negara. Kondisi inflasi yang tinggi memaksa bank sentral di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer). Situasi ini membuat dolar AS menjadi sangat kuat, sehingga investor cenderung menarik modal mereka dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset safe haven di negara maju.

Irman menekankan bahwa dampak geopolitik ini jauh lebih fatal karena menyerang dua lini sekaligus: pasar saham dan pasar obligasi. Keluarnya arus modal dari pasar obligasi atau surat utang negara jauh lebih berbahaya bagi rupiah. Ketika investor asing melepas obligasi negara, imbal hasil (yield) akan melonjak naik. Hal ini meningkatkan rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara, yang pada akhirnya memperbesar penilaian risiko pasar keuangan Indonesia di mata dunia. Inilah yang menjadi mesin utama di balik pelemahan nilai tukar rupiah saat ini.

Related Post