Jabarpos.id, Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari Bank Dunia (World Bank) yang menyoroti kerentanan kelas menengah Indonesia terhadap kemiskinan. Bahkan, kelompok ini disebut semakin tertinggal dibandingkan kelas atas dan bawah.
Lead Economist World Bank Indonesia dan Timor Leste, Habib Rab, mengungkapkan bahwa kondisi kelas menengah Indonesia terus memburuk sejak pandemi Covid-19. Jumlahnya menyusut drastis dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi hanya 47,85 juta jiwa pada 2024.
Menurut Habib, akar masalahnya terletak pada sektor ketenagakerjaan. Banyak masyarakat yang tidak mampu mencapai standar hidup kelas menengah karena bekerja di sektor dengan gaji minim dan semakin banyak pekerja informal yang tidak memiliki pekerjaan berkualitas dan berkelanjutan.
Also Read
"Artinya, semakin sedikit pekerja yang mampu mencapai standar hidup kelas menengah," ujarnya saat peluncuran Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2025 di Jakarta, seperti dikutip jabarpos.id, Selasa (7/10/2025).
Sektor perdagangan grosir dan eceran serta pertanian menjadi ladang pekerjaan bagi mayoritas masyarakat kelas pekerja, menyumbang 52% dari seluruh pekerjaan yang diciptakan. Ironisnya, hampir 60% pekerja berada dalam pekerjaan informal tanpa jaminan keamanan kerja.
Upah nominal hanya tumbuh 1,8% secara tahunan pada Februari 2025, hampir setara dengan inflasi. Sementara itu, pekerja di sektor formal menghadapi PHK yang meningkat tajam dari 3.325 pada Januari menjadi 18.610 pada Februari 2025, dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu.
PHK terkonsentrasi di Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Riau, wilayah dengan industri manufaktur yang kuat. Sektor tekstil, alas kaki, dan elektronik menjadi korban utama, dengan setidaknya 10 perusahaan manufaktur tutup pada kuartal I-2025, berdasarkan data Kementerian Perindustrian yang dikutip Bank Dunia.
Habib Rab menambahkan bahwa mayoritas tenaga kerja Indonesia masih bekerja di sektor produktivitas rendah seperti jasa, agrikultur, perdagangan, hotel dan restoran, serta manufaktur bernilai tambah minim.
Kondisi ini melemahkan daya beli kelas menengah. Konsumsi mereka terus tertinggal dari golongan termiskin dan terkaya sejak 2019-2024.
Bank Dunia mencatat, konsumsi 40% masyarakat termiskin meningkat 2-3% per tahun berkat bantuan sosial pemerintah. Sementara itu, 10% golongan terkaya juga mengalami peningkatan konsumsi tahunan sebesar 3%.
Namun, kelas menengah (persentil ke 40-90 dari distribusi konsumsi) hanya mengalami pertumbuhan sekitar 1,3% per tahun pada periode yang sama.
"Sehingga kelas menengah justru makin tertinggal. Ini tantangan besar bagi Indonesia, karena pertumbuhan kelas menengah adalah indikator pasar yang berkembang untuk barang dan jasa bernilai tambah tinggi serta canggih yang mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkas Habib Rab.






