Dari Kembang Api ke Rokok, Siapa Sangka Begini Kisah Raja Kretek Djarum!

Author Image

Endang Wulansari

24 November 2025, 00:04 WIB

Jabarpos.id – Siapa sangka, sebelum menjadi penguasa industri rokok kretek, pendiri Djarum, Oei Wie Gwan, justru memulai bisnisnya dari kembang api? Kisah perjalanan bisnisnya sungguh tak terduga dan penuh liku.

Sebelum dikenal sebagai dinasti bisnis Hartono yang merajai berbagai sektor, Oei Wie Gwan mengelola bisnis kembang api Cap Leo yang bahkan diekspor ke mancanegara. Namun, bisnis ini tak luput dari risiko. Sebuah insiden tragis terjadi pada tahun 1938, pabrik kembang apinya di Rembang meledak, menewaskan lima pekerja dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam hidupnya, seperti yang diberitakan jabarpos.id.

Dari Kembang Api ke Rokok, Siapa Sangka Begini Kisah Raja Kretek Djarum!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Setelah perang Indonesia-Belanda mereda, Oei memutuskan untuk beralih ke bisnis yang masih berhubungan dengan api, yaitu rokok. Pada tahun 1951, ia membeli pabrik rokok kretek kecil di Kudus bernama Djarum Gramophon, yang kemudian disingkat menjadi Djarum.

Namun, cobaan kembali menghampiri. Pada tahun 1963, pabrik Djarum mengalami kebakaran besar yang hampir menghancurkan usahanya. Musibah ini disusul dengan meninggalnya Oei Wie Gwan, meninggalkan perusahaan dalam kondisi yang sulit.

Kedua putranya, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, kemudian mengambil alih dan melanjutkan bisnis keluarga. Mereka tidak hanya berhasil menyelamatkan Djarum, tetapi juga mengubahnya menjadi perusahaan rokok raksasa.

Pada tahun 1970-an, mereka membangun divisi penelitian dan pengembangan serta memodernisasi produksi dengan mesin. Langkah inovatif ini membuahkan hasil dengan peluncuran kretek berfilter pada tahun 1976 dan Djarum Super pada tahun 1981, produk yang masih populer hingga saat ini.

Di bawah kepemimpinan generasi kedua, Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota kretek, tetapi juga sebagai rumah bagi dunia bulutangkis. PB Djarum didirikan di kota ini dan telah melahirkan banyak atlet nasional berkat dukungan keluarga Hartono.

Kesuksesan bisnis rokok membawa keluarga Oei Wie Gwan menjadi salah satu dinasti bisnis terbesar di Indonesia. Mereka melebarkan sayap ke berbagai sektor, termasuk elektronik (Polytron), perkebunan (HPI Agro), ritel (Grand Indonesia), perdagangan elektronik (Blibli), dan perjalanan daring (tiket.com). Bahkan, mereka mengendalikan Bank Central Asia (BCA), bank swasta terbesar di Indonesia.

Menariknya, pemilik awal BCA diketahui memiliki hubungan erat dengan keluarga Oei. Liem Sioe Liong dan Oei Wie Gwan telah bersahabat sejak lama, seperti yang dicatat dalam buku "Liem Sioe Liong dan Salim Group" oleh Richard Borsuk dan Nancy Chng.

Dari kembang api hingga rokok, kisah Oei Wie Gwan adalah perjalanan yang luar biasa tentang ketekunan, keberanian mengambil risiko, dan inovasi yang melahirkan salah satu kerajaan bisnis terbesar di Indonesia.

Related Post