JABARPOS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari ini, Jumat (24/4/2026), membuat investor bertanya-tanya. IHSG ditutup merosot 3,38% atau 249,49 poin ke level 7.129,49.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG terus berada di zona merah, sempat mencoba bangkit namun gagal. Data menunjukkan 701 saham mengalami penurunan, hanya 92 yang berhasil naik, dan 166 saham stagnan. Volume transaksi tercatat ramai, mencapai Rp 24,3 triliun dengan 44,8 miliar saham berpindah tangan dalam 2,66 juta transaksi. Akibatnya, kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp 12.736 triliun.

Tekanan jual dari investor asing menjadi penyebab utama anjloknya IHSG. Total pembelian asing mencapai Rp3 triliun, sementara penjualan mencapai Rp 5 triliun, menghasilkan penjualan bersih asing sebesar Rp2 triliun. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi target utama penjualan asing.
Penurunan tajam ini bukan kejadian tunggal, melainkan akumulasi dari sentimen negatif yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir. Kombinasi tantangan makroekonomi, dinamika arus modal asing, dan indikator teknikal yang kurang mendukung menjadi faktor utama pelemahan pasar.
Lembaga pemeringkat seperti Fitch Ratings dan Moody’s, serta bank-bank besar AS seperti JP Morgan dan Goldman Sachs, memberikan penilaian "underweight" terhadap Indonesia. Hal ini memicu kehati-hatian investor institusi dan membebani fundamental pasar.
Secara teknikal, IHSG menunjukkan tren pelemahan setelah menembus level support psikologis 7.500 dan level support historis 7.300. Meskipun ada upaya pembentukan titik balik, pergerakan tersebut tidak didukung oleh volume transaksi yang memadai.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, yang sempat mencapai Rp 17.300 per dolar AS, semakin memperburuk situasi. Depresiasi mata uang menciptakan risiko kerugian ganda bagi investor asing, memicu aksi jual yang lebih besar.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga turut memengaruhi kinerja IHSG. Eskalasi militer yang berawal sejak Februari lalu telah berkembang menjadi capital war, meningkatkan premi risiko dan mendorong investor global untuk mencari aset safe haven. Ketidakpastian resolusi militer ini memperparah tekanan arus modal keluar dari IHSG.



