Jakarta – jabarpos.id PT Astra International Tbk (ASII) menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi serbuan kendaraan listrik (EV) dari Tiongkok dan Korea Selatan. Raksasa otomotif ini bertekad mempertahankan dominasinya di pasar Indonesia yang semakin kompetitif.
Direktur Astra, Gidion Hasan, menjelaskan bahwa Astra secara historis menguasai sekitar 50% pangsa pasar otomotif nasional. Di tengah persaingan yang ketat, Astra berupaya keras mempertahankan angka tersebut. Gidion meyakini bahwa mobil listrik, hybrid, dan mesin pembakaran internal (ICE) akan terus hidup berdampingan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang beragam.

"Saat ini, sekitar 20% pasar EV terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek, sementara pasar hybrid lebih merata di seluruh Indonesia," ungkap Gidion dalam konferensi pers RUPST Astra 2026 di Menara Astra, Kamis (23/4/2026). Ia menambahkan bahwa mesin konvensional masih sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, dengan pangsa pasar sekitar 75%, karena faktor keterjangkauan dan mobilitas.
Untuk itu, Astra akan fokus meluncurkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia. Selain itu, Astra akan memaksimalkan ekosistem luas yang telah dibangun di seluruh Indonesia, termasuk jaringan dealer, retail, pembiayaan, layanan purna jual, hingga platform u-start untuk kebutuhan tukar tambah.
"Dengan strategi ini, kami berharap dapat mempertahankan pangsa pasar kami di kisaran 50%," tegas Gidion.
Direktur Utama Astra, Rudy, menambahkan bahwa Astra telah memiliki "modal" untuk bersaing di pasar otomotif yang semakin beragam. Ia menyoroti perbedaan karakteristik pelanggan di kota-kota besar dan kecil.
"Di kota besar, daya beli lebih tinggi, infrastruktur pengisian daya tersedia, dan masyarakat lebih melek teknologi. Adopsi EV cenderung lebih tinggi di wilayah perkotaan. Sementara di kota-kota kecil, faktor fungsionalitas dan keterjangkauan menjadi pertimbangan utama," jelas Rudy.



