Beranda / Berita / Peluang Emas Ekonomi Terkuak di Jogja

Peluang Emas Ekonomi Terkuak di Jogja

Peluang Emas Ekonomi Terkuak di Jogja

Yogyakarta – Jogja Financial Festival (JFF) 2026 yang dihelat di Jogja Expo Center (JEC) selama dua hari, telah sukses besar menarik perhatian publik dan para pemangku kepentingan. Acara ini mempertemukan para pemangku kepentingan utama, mulai dari pejabat pemerintah, regulator, hingga pucuk pimpinan perusahaan terkemuka, untuk berdiskusi dan bertukar pandangan dalam upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat. jabarpos.id melaporkan bahwa festival ini menjadi wadah penting untuk menggali potensi dan strategi ekonomi masa depan.

Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, turut hadir dan mendorong para pelajar serta mahasiswa untuk secara aktif memanfaatkan kesempatan berharga yang ditawarkan festival keuangan ini. Menurut Anggito, kunci kemajuan sektor keuangan terletak pada disiplin, tata kelola yang kuat, pemberdayaan sumber daya manusia, dan bisnis yang menguntungkan. "Akhirnya kan cuan," imbuhnya saat berbicara di JFF 2026, Sabtu (23/5/2026).

Peluang Emas Ekonomi Terkuak di Jogja
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyambut baik dan menyatakan kegembiraannya atas penyelenggaraan JFF 2026. Ia menilai kegiatan semacam ini sangat positif dalam membangun perekonomian Yogyakarta. "Teman-teman ISEI bilang Jogja tumbuh karena ekonomi kerumunan. Jadi acara seperti ini kita harapkan bisa setiap minggu," ujarnya, menunjukkan antusiasme terhadap dampak ekonomi lokal.

Senada, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menekankan pentingnya penguatan kualitas diri bagi pelajar dan mahasiswa agar dapat meraih kesuksesan di era teknologi saat ini. Ia mencontohkan Founder & Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, sebagai sosok yang berhasil mencapai puncak kesuksesan berkat kapasitas dan kualitas dirinya, terlepas dari latar belakang keluarganya. "Kualitas diri kapasitas pribadi itu adalah kekayaan yang tidak ternilai," tegas Misbakhun, seraya berharap generasi muda dapat memanfaatkan fasilitas belajar, termasuk ajang seperti JFF 2026, untuk meningkatkan kemampuan pribadi mereka. Dengan akses pengetahuan yang kini mudah didapat melalui buku dan internet, generasi saat ini memiliki peluang lebih besar untuk sukses di masa depan dibandingkan generasi sebelumnya.

Baca juga:  7 Orang Pengancam Kegiatan Paus Fransiskus Diamankan Densus 88

Sesi Business Talks: Evolusi Perbankan dan Inklusi Keuangan

Dalam sesi Business Talks, sejumlah pucuk pimpinan perbankan nasional turut membagikan pandangan mereka mengenai peran bank dalam mendorong perekonomian, literasi, dan inklusi keuangan. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), Hery Gunardi, menyoroti evolusi perbankan yang krusial. Ia menjelaskan fungsi intermediasi bank dalam mengumpulkan dana masyarakat dan menyalurkannya untuk membiayai bisnis, yang pada gilirannya menghasilkan margin keuntungan. "Di situlah bank-nya hidup. Jadi artinya bank mesti punya banyak nasabah," jelasnya.

BRI, lanjut Hery, terus bertransformasi untuk memperkuat layanan, salah satunya melalui Brimo Mobile Banking. Aplikasi ini kini telah digunakan oleh lebih dari 60 juta pengguna, dengan transaksi harian mencapai Rp32 triliun dan total transaksi setahun menembus Rp7.500 triliun. Ini menjadi indikator kuat bahwa perbankan terus beradaptasi dan berevolusi.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengandalkan program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dan digitalisasi untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi masyarakat unbanked atau yang belum terjangkau layanan perbankan. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa fokus utama BTN adalah KPR subsidi yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, didukung penuh oleh pemerintah.

Baca juga:  Goreng Saham SWAT Terbongkar Dalang Manipulasi Terungkap

Di sisi lain, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Anggoro Eko Cahyo, mengungkapkan bahwa perbankan syariah memiliki peran vital dalam membangun ekonomi yang adil, transparan, berkelanjutan, dan bermanfaat. BSI, menurutnya, berupaya mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar pertumbuhannya berkelanjutan, serta masuk ke dalam ekosistem syariah seperti pesantren, halal lifestyle, haji, dan umroh.

Direktur Treasury & International Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Abu Santosa Sudradjat, menyoroti digitalisasi dan jaringan global sebagai kekuatan utama BNI dalam membantu pelaku usaha Indonesia menembus pasar internasional. BNI memiliki delapan financial center dan sepuluh cabang internasional yang berfungsi sebagai penghubung bisnis Indonesia dengan pasar dunia. Abu mengakui banyak UMKM Indonesia memiliki produk unggulan, namun terkendala akses dan konektivitas internasional, di sinilah peran BNI menjadi krusial.

Berbeda pandangan, Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Novita Widya Anggraini, menyoroti fakta bahwa masyarakat Indonesia masih cukup bergantung pada transaksi tunai, meskipun layanan digital banking dan penggunaan internet oleh generasi muda telah berkembang pesat. "Kami punya data bahwa masih ada sekitar 39% transaksi masyarakat yang sifatnya cash," ungkap Novita, menunjukkan perlunya peningkatan adopsi transaksi digital seiring dominasi milenial dan Gen Z dalam aktivitas internet nasional.

CEO Talks: Membedah Isu Pertambangan dan Pasar Modal

Sesi CEO Talks menghadirkan Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto. Ia secara terbuka membahas isu pertambangan yang sering dinarasikan destruktif. Anto, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa pertambangan adalah tulang punggung peradaban, dengan lahan yang digunakan kurang dari 1% dari seluruh daratan. Khusus untuk nikel, komoditas ini justru banyak digunakan untuk tujuan positif, yaitu mendorong transisi energi, seperti bahan baku utama katoda baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi terbarukan, serta material infrastruktur turbin angin. "Saya berani sampaikan ke publik nikel yang diproduksi Vale ini sustainable nikel," tegasnya.

Baca juga:  Pasbata Pecinta Jokowi Akan Geruduk Bareskrim Jika Lamban Dalam Proses Pelaporan Terhadap Roy Suryo

Pada sesi Financial Market: Bonds and Capital, berbagai lembaga seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) juga memberikan pembaruan informasi seputar pasar keuangan. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menjelaskan alasan pemerintah terus menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) untuk membiayai APBN. Menurutnya, APBN adalah instrumen penting pembangunan dan mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga belanja negara perlu dijaga tetap ekspansif melalui desain defisit.

PJS Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyatakan optimismenya terhadap prospek cerah pasar modal Indonesia pada 2026, didorong tingginya minat investasi masyarakat, khususnya generasi muda. Sejak pandemi Covid-19, jumlah investor pasar modal melonjak drastis dari 4-5 juta menjadi 27,4 juta, meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Reynaldi Hermansjah, memaparkan strategi SMI dalam menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di tengah tingginya risiko pembiayaan proyek infrastruktur jangka panjang.