Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi, Indonesia menunjukkan ketahanan luar biasa. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan kepada jabarpos.id bahwa fondasi ekonomi domestik yang kokoh menjadi kunci utama keberuntungan bangsa ini. Konsumsi masyarakat yang kuat, menurutnya, telah menjadi benteng pertahanan yang efektif.
Data terbaru menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai angka impresif 5,61%. Angka ini, menurut Destry, sebagian besar ditopang oleh daya beli masyarakat yang tumbuh 5,52%, dengan porsi dominan mencapai 54,36% dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Inilah yang menjadi modal kuat RI dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia yang tak terduga.
"Kita beruntung memiliki ekonomi domestik yang relatif solid dibandingkan dengan negara lain. Ini terbukti dari pertumbuhan PDB kita di triwulan satu kemarin yang tumbuh impresif 5,6%, pada saat banyak negara lain masih berjuang," jelas Destry. Ia menambahkan, ketahanan konsumsi masyarakat sebagai penopang utama PDB masih mampu bertahan dalam kondisi global yang menantang.
Also Read
Ketahanan konsumsi rumah tangga ini juga dinilai Destry sebagai magnet kuat bagi investor. Potensi besar Indonesia untuk terus menarik penanaman modal asing tetap tinggi, bahkan di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi akibat konflik di berbagai kawasan. Sebagai contoh, Destry menyoroti ketidakpastian yang diakibatkan oleh penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, imbas perang di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat. Gangguan ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga tembus US$100 per barel, dengan proyeksi peningkatan inflasi global.
Untuk itu, Bank Indonesia, melalui Destry, terus berupaya menjaga ketahanan eksternal Indonesia. Langkah ini krusial demi melindungi daya tahan motor pertumbuhan domestik tersebut. Salah satu upaya konkret yang diambil adalah melalui kebijakan moneter, termasuk kenaikan BI Rate.
Destry memperingatkan, jika guncangan eksternal tidak diantisipasi dengan baik, dampaknya bisa mereduksi kemampuan konsumsi masyarakat, terutama karena potensi merosotnya pertumbuhan ekspor dan besarnya tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Ini tentunya menjadi kewaspadaan buat kita karena nanti pasti akan tercermin juga di inflasi yang meningkat. Oleh karena itu, kita kemarin juga menaikkan suku bunga sebagai langkah stabilisasi rupiah kita, dan tentunya forward looking agar kita bisa menjaga inflasi," tegas Destry.






