Kabar mengejutkan datang dari pasar modal Tanah Air pada Jumat (26/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara drastis berbalik arah, mengakhiri sesi pertama perdagangan dengan pelemahan tajam nyaris 3%. Momen ini menjadi sorotan utama setelah indeks sempat menunjukkan optimisme di awal pembukaan. Menurut laporan jabarpos.id, tekanan jual yang masif menjadi pemicu utama ambruknya mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penutupan sesi pertama mencatat IHSG anjlok 2,73%, setara dengan koreksi 164 poin, dan terdampar di level 5.835,11. Perjalanan indeks hari itu penuh gejolak; setelah sempat menyentuh puncak 6.045, lajunya langsung terjun bebas, bahkan menyentuh titik terendah 5.830 sebelum sedikit memantul di penutupan sesi.
Dominasi sentimen negatif terlihat jelas dari peta perdagangan. Sebanyak 593 saham terperosok ke zona merah, berbanding terbalik dengan hanya 91 saham yang mampu menguat, dan 123 saham lainnya bergerak stagnan. Aktivitas transaksi juga cukup ramai, dengan total nilai mencapai Rp6,39 triliun, melibatkan 11,70 miliar saham yang diperdagangkan melalui 933 ribu kali transaksi. Beberapa emiten yang paling banyak diperdagangkan antara lain TPIA, BBCA, BMRI, DSSA, dan TLKM.
Also Read
Koreksi masif ini tak pandang bulu; seluruh sektor perdagangan terpukul. Sektor barang baku mencatat pelemahan terdalam sebesar 5,73%, diikuti oleh utilitas (-4,48%), teknologi (-3,85%), dan konsumer non-primer (-3,04%). Beberapa saham unggulan turut menjadi beban berat bagi indeks. Mora Telematika Indonesia (MORA) menjadi penekan utama dengan kontribusi pelemahan 11,21 poin indeks, disusul oleh TLKM (-9,40 poin), EMAS (-8,51 poin), BRMS (-7,95 poin), dan BMRI (-7,82 poin).
Anjloknya IHSG ini bukan tanpa sebab. Para analis pasar mengidentifikasi kombinasi sentimen dari kancah global maupun domestik yang membayangi pergerakan indeks. Dari sisi eksternal, data ekonomi Amerika Serikat yang semakin solid dikhawatirkan akan memicu sikap yang lebih ‘hawkish’ dari The Federal Reserve. Di sisi lain, dari dalam negeri, investor mencermati keputusan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan serta rencana pemerintah menerbitkan Panda Bond.
Di panggung global, kekhawatiran datang dari Amerika Serikat. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Mei 2026 melonjak ke 4,1% secara tahunan, menjadi yang tertinggi sejak April 2023 dan jauh melampaui target The Fed sebesar 2%. Bersamaan dengan itu, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2026 direvisi naik menjadi 2,1%, melampaui perkiraan awal. Ditambah lagi, klaim pengangguran yang turun ke 215.000 mengindikasikan pasar tenaga kerja yang tetap tangguh.
Sinyal inflasi yang kembali memanas dan fundamental ekonomi AS yang kokoh ini memperkuat dugaan bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama. Kondisi ini berpotensi mendongkrak nilai tukar dolar AS sekaligus menekan arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang pada akhirnya membebani kinerja bursa.
Sementara itu, dari ranah domestik, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mengumumkan kenaikan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75%. Kebijakan ini akan berlaku efektif mulai 1 Juli hingga 30 September 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons proaktif untuk menjaga kepercayaan terhadap sistem penjaminan simpanan di tengah gejolak kenaikan suku bunga acuan dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Di samping itu, pemerintah juga terus mematangkan rencana penerbitan Panda Bond. Obligasi berdenominasi yuan ini ditargetkan meluncur pada awal Juli 2026. Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan dan memperluas jangkauan akses pendanaan di pasar keuangan Tiongkok.






