Valuasi Murah Saham Ini Jadi Incaran Asing

Author Image

Endang Wulansari

6 Juli 2026, 08:04 WIB

Di tengah derasnya arus jual bersih investor asing yang mencapai Rp2,73 triliun di pasar reguler selama periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026, sebuah strategi berbeda justru terlihat. Para investor global, sebagaimana diungkapkan jabarpos.id, justru mulai agresif memburu saham-saham sektor komoditas dan energi. Langkah ini diambil saat valuasi pasar saham Indonesia dinilai semakin menarik dan jauh lebih murah dibandingkan posisi awal tahun.

Penurunan valuasi ini tercermin jelas dari indikator-indikator kunci pasar. Rasio Harga Saham terhadap Laba Pasar (Market Price to Earnings Ratio/PER) kini berada di level 12,25 kali pada akhir pekan lalu, anjlok signifikan dari 17,23 kali pada pertengahan Januari 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh level di atas 9.000. Demikian pula, Rasio Harga Saham terhadap Nilai Buku (Price to Book Value/PBV) telah merosot menjadi 1,56 kali dari 2,58 kali, mengindikasikan bahwa pasar saham domestik telah mengalami koreksi valuasi yang substansial dalam enam bulan terakhir.

Valuasi Murah Saham Ini Jadi Incaran Asing
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di tengah kondisi pasar yang "diobral" ini, beberapa saham justru menjadi magnet kuat bagi investor asing. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) memimpin daftar saham yang paling banyak dikoleksi dengan nilai beli bersih (net buy) mencapai Rp131,5 miliar. Menyusul di belakangnya adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dengan net buy Rp115,5 miliar dan PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) senilai Rp104,4 miliar. Tak hanya itu, saham-saham seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) senilai Rp74,8 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) Rp65,3 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar Rp64 miliar juga turut menjadi sasaran pembelian agresif dari investor global.

Secara keseluruhan, kinerja IHSG pekan lalu menunjukkan koreksi tipis 0,35%, mengakhiri perdagangan di level 5.875,78, meskipun sempat mencatatkan penguatan pada tiga dari lima hari perdagangan. Kondisi pasar yang lesu juga tercermin dari aktivitas transaksi yang melambat signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian anjlok 35,9% menjadi Rp11,27 triliun dari Rp17,58 triliun pada pekan sebelumnya, sementara rata-rata volume transaksi harian juga turun 30,35% menjadi 17,54 miliar saham.

Menariknya, di tengah kelesuan pasar, rasio perdagangan investor asing justru membesar, naik dari 31% menjadi 41%. Ini mengindikasikan bahwa meskipun secara agregat mereka mencatat jual bersih, aktivitas selektif pembelian saham-saham tertentu tetap intens. Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa nilai transaksi investor domestik mencapai Rp66,07 triliun, sementara investor asing mencatatkan transaksi senilai Rp46,62 triliun. Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran strategi di mana investor asing cenderung lebih selektif dalam memilih aset di tengah valuasi yang menarik.

Related Post