Pay Later Menggila Jutaan Warga RI Ketagihan

Author Image

Endang Wulansari

8 Agustus 2026, 08:04 WIB

Minat masyarakat Indonesia terhadap layanan "Buy Now Pay Later" (BNPL) atau beli sekarang bayar nanti menunjukkan lonjakan signifikan. Data terbaru yang dihimpun jabarpos.id mengungkapkan bahwa penyaluran BNPL oleh Perusahaan Pembiayaan melonjak 57,02% secara tahunan (yoy) hingga Juni 2026, mencapai angka fantastis Rp13,40 triliun. Ini menandakan semakin dalamnya penetrasi fasilitas pembayaran ini di kalangan konsumen.

Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML), mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini diiringi oleh perbaikan kualitas pembayaran debitur. Rasio kredit bermasalah (NPF gross) BNPL Perusahaan Pembiayaan berhasil ditekan menjadi 3,09% pada Juni 2026, turun dari 3,44% di bulan sebelumnya. Penurunan ini sebagian besar didukung oleh kedisiplinan pembayaran para debitur.

Pay Later Menggila Jutaan Warga RI Ketagihan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meskipun demikian, Agusman mengingatkan pentingnya penguatan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian bagi Perusahaan Pembiayaan. Hal ini mencakup penguatan penilaian kemampuan bayar debitur serta pemantauan kualitas portofolio secara berkelanjutan untuk menjaga keberlanjutan sektor ini.

Tren positif ini tidak hanya terjadi di sektor perusahaan pembiayaan. Berdasarkan informasi dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, kinerja BNPL multifinance juga mencatat kenaikan impresif sebesar 53,78% yoy pada Mei 2026. Tak ketinggalan, industri perbankan turut merasakan dampak masif dari popularitas pay later.

Total baki debet atau outstanding pay later yang disalurkan perbankan mencapai Rp30,71 triliun pada Juni 2026. Angka ini tumbuh 33,54% secara tahunan, meskipun sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan Mei 2026 yang mencapai sekitar 37% yoy. Menariknya, jumlah rekening pay later di perbankan telah menembus 32,80 juta hingga Juni 2026. Meskipun jumlah penggunanya sangat banyak, rata-rata baki debet per rekening masih tergolong kecil, yaitu sekitar Rp940 ribu.

Lonjakan angka ini menegaskan bahwa layanan beli sekarang bayar nanti telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup konsumsi masyarakat Indonesia, baik melalui perusahaan pembiayaan maupun perbankan, menunjukkan adaptasi yang cepat terhadap kemudahan transaksi digital.

Related Post