Jakarta – PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kinerja luar biasa, dengan laba bersih melonjak drastis hingga 805% pada semester I-2026. Lonjakan signifikan ini tak lepas dari peran aktif pemerintah dalam menertibkan praktik penambangan timah ilegal yang selama ini menjadi duri dalam daging bagi produsen resmi. Informasi yang dihimpun jabarpos.id menyebutkan bahwa penertiban ini menjadi katalis utama pemulihan produksi dan performa keuangan perseroan.
Sebelumnya, aktivitas pertambangan timah ilegal telah menjadi tantangan serius bagi TINS dan industri timah nasional. Pasokan timah dalam jumlah besar beredar di luar rantai pasok resmi, menciptakan "sektor bayangan" yang diperkirakan mencapai 80% dari total produksi timah di Bangka Belitung. Bahkan, Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan hingga 12.000 ton timah dapat diekspor secara ilegal setiap tahun. Presiden Prabowo Subianto, dalam komitmennya mengamankan cadangan strategis nasional, menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di wilayah tersebut, sebuah langkah yang kini mulai membuahkan hasil.
Persaingan tidak sehat dengan penambang ilegal sempat menekan produksi TINS secara signifikan. Pada semester I-2025, produksi bijih timah TINS bahkan anjlok 32% secara tahunan menjadi hanya 6.997 ton. Namun, dengan semakin ketatnya penertiban, bijih timah yang sebelumnya berada di jalur informal kini berpeluang besar untuk kembali masuk ke rantai pasok resmi. Kondisi ini membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan perolehan bijih, produksi, dan volume penjualan secara substansial.
Also Read
Momentum pemulihan ini terlihat jelas pada semester I-2026. Produksi bijih timah TINS melonjak sekitar 75% menjadi 12.232 ton Sn, dari sebelumnya 6.997 ton Sn pada periode yang sama tahun 2025. Produksi logam timah juga meningkat menjadi 10.865 metrik ton, sementara volume penjualan logam timah melesat sekitar 85% menjadi 10.984 metrik ton, jauh di atas 5.933 metrik ton di semester I-2025.
Kenaikan volume produksi dan penjualan ini secara langsung mendongkrak kinerja keuangan perseroan. Pendapatan TINS pada semester I-2026 mencapai Rp10,42 triliun, melonjak 147% dari Rp4,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Puncaknya, laba bersih TINS meroket hingga sekitar 805% menjadi Rp2,71 triliun, jauh melampaui Rp300 miliar yang dicatatkan pada semester I-2025. Realisasi laba ini bahkan telah mencapai 169% dari target laba bersih TINS sepanjang tahun 2026 yang sebesar Rp1,61 triliun.
Selain penertiban tambang ilegal, kinerja gemilang TINS juga ditopang oleh harga timah global yang tinggi. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I-2026 mencapai US$50.319 per metrik ton, naik 56,7% dari US$32.116 per metrik ton pada semester I-2025. Perbaikan fundamental ini turut tercermin pada kapitalisasi pasar TINS yang melonjak dari sekitar Rp7,6 triliun pada Agustus 2025 menjadi sekitar Rp28,75 triliun pada Agustus 2026.
Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee, merekomendasikan "Buy" untuk saham TINS dengan target harga Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham. "Prospek TINS saat ini ditopang oleh pemulihan produksi, dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal," ujarnya pada Senin (10/8/2026). Ia menambahkan bahwa valuasi TINS masih sangat menarik dengan Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 4,49 kali, Net Profit Margin (NPM) sekitar 26%, dan Return on Equity (ROE) sekitar 51%.
Dari sisi industri, Hans Kwee juga menilai prospek harga timah dunia masih positif. Hal ini didorong oleh potensi kekurangan pasokan akibat meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang terus berkembang pesat.






