Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara secara gamblang menyatakan optimisme tinggi terhadap prospek kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah pengelolaannya. Bahkan, Danantara berani menargetkan laba bersih yang jauh melampaui Temasek Holdings, perusahaan investasi global asal Singapura, demikian laporan jabarpos.id.
Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pihaknya memproyeksikan laba bersih Danantara dapat menyentuh angka fantastis Rp 360 triliun pada tahun 2026. Angka ini, jika tercapai, akan hampir dua kali lipat dari realisasi laba bersih Temasek yang berada di kisaran Rp 136 triliun. "Secara ukuran pendapatan bersih, tentu kita sudah lebih besar dari Temasek. Tahun 2026 kita harapkan Rp 360 triliun, hampir dua kali lipat," tegas Dony dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Dony menegaskan, pencapaian ini merupakan cerminan nyata bahwa Indonesia memiliki perusahaan-perusahaan dengan potensi besar untuk bersaing di kancah global. Peningkatan kinerja signifikan ini tidak lepas dari proses transformasi mendalam yang diinisiasi Danantara terhadap sejumlah BUMN.
Also Read
Transformasi tersebut diawali dengan pembenahan persoalan mendasar di tubuh BUMN. Sebelum agenda transformasi ini digencarkan, Danantara secara proaktif memantau kondisi bisnis dan keuangan masing-masing perusahaan pelat merah.
Setelah satu setengah tahun melakukan pemetaan dan analisis komprehensif, Dony mengakui pihaknya berhasil mengidentifikasi tiga persoalan besar yang selama ini menghambat kinerja BUMN.
Persoalan pertama adalah over-investment atau investasi yang dilakukan secara berlebihan tanpa perhitungan matang mengenai potensi imbal hasil yang akan didapatkan.
Kedua, financial engineering. Dony menyoroti bahwa hampir seluruh BUMN yang menghadapi masalah memiliki akar persoalan dari praktik rekayasa keuangan. Danantara kini secara tegas melarang BUMN melakukan rekayasa keuangan demi menciptakan citra kinerja yang lebih baik dari kenyataan.
"Dan yang ketiga adalah fraud atau penipuan. Tiga inilah yang menjadi penyebab utama perusahaan-perusahaan kita menghadapi persoalan hari ini dan harus segera kita selesaikan," tegas Dony.
Di tengah upaya pembenahan ini, beberapa entitas BUMN telah menunjukkan hasil positif sebagai contoh nyata dari keberhasilan agenda transformasi. Dony menyebut PT Semen Indonesia Tbk, PT Pegadaian, PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina, PT Krakatau Steel Tbk, hingga PT Kimia Farma Tbk sebagai perusahaan yang telah membukukan perubahan kinerja signifikan pasca-transformasi.
Selain fokus pada transformasi domestik, Danantara juga aktif mendorong BUMN-BUMN untuk melebarkan sayapnya ke pasar global. Contohnya, kemitraan strategis dengan perusahaan produsen protein global JBS telah terjalin. Selain itu, Danantara juga mengakuisisi hotel di Mekkah dan berencana untuk berinvestasi di Madinah, Arab Saudi. "Saya juga mendorong Pegadaian untuk mulai beroperasi dan mengakuisisi serta mencoba untuk berbicara dengan perusahaan di Filipina," pungkas Dony, menunjukkan ambisi ekspansi yang luas.






