Kisah hidup para mantan pejabat negara setelah tak lagi mengemban amanah publik seringkali menarik perhatian. Ada yang memilih menikmati hari tua dengan kemewahan, namun tak sedikit pula yang harus berjuang keras demi kelangsungan hidup. Salah satu cerita paling menginspirasi datang dari Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama RI, yang secara mengejutkan diketahui berjualan beras di Pasar Glodok, Jakarta, setelah pensiun. Informasi ini diungkapkan oleh jabarpos.id.
Saifuddin Zuhri tercatat sebagai Menteri Agama RI ke-10, menjabat dari 2 Maret 1962 hingga 1967. Setelah masa jabatannya berakhir, ia masih aktif di kancah politik, menjadi anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) dan kemudian anggota DPR hasil Pemilu 1971. Namun, setelah sepenuhnya meninggalkan dunia politik dan pemerintahan, kehidupannya berubah drastis, jauh dari kesan glamor atau kemewahan.
Pada dekade 1980-an, Saifuddin Zuhri beralih profesi menjadi pedagang beras di Pasar Glodok, sebuah fakta yang terungkap dalam buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023). Rutinitas ini dijalaninya hampir setiap hari. Pukul 09.00 WIB, setelah menunaikan salat Dhuha, ia akan mengemudikan mobilnya sendiri, mengangkut karung-karung beras menuju pasar untuk berjualan.
Also Read
Aktivitas berdagang ini bahkan dirahasiakan rapat-rapat dari keluarganya. Istri dan anak-anaknya hanya mengetahui bahwa Saifuddin selalu membawa pulang uang, tanpa pernah tahu persis dari mana pendapatan itu berasal. Rahasia mantan menteri ini akhirnya terbongkar ketika salah satu putranya, secara tak sengaja, memergoki ayahnya sedang melayani pembeli di lapak berasnya di Pasar Glodok.
Sebenarnya, dunia perdagangan bukanlah hal baru bagi Saifuddin. Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia mengisahkan bahwa pada tahun 1942, ketika anak pertamanya lahir, ia pernah mencari nafkah dengan menjual berbagai barang, mulai dari pakaian bekas, perabotan rumah tangga bekas, hingga rokok.
Semangat integritas dan kesederhanaan Saifuddin telah tertanam kuat jauh sebelum ia menjabat menteri. Bagi figur yang juga ayah dari Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama di era Kabinet Kerja) ini, jabatan menteri adalah sebuah amanah suci yang pantang disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau memperkaya diri. Prinsip ini secara konkret ia tunjukkan dengan menolak fasilitas rumah dinas. Meskipun secara aturan ia berhak dan berulang kali didesak untuk menempati rumah dinas yang mewah, ia tetap teguh memilih tinggal di kediaman pribadinya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
"Jika demikian, itu namanya serakah. Apabila seorang menteri agama sudah serakah, bagaimana dengan yang lain… sikap saya tegas. Sejak saat itu, saya tetap menempati rumah pribadi saya hingga sekarang," ujarnya dengan tegas kala itu. Ia kemudian memutuskan untuk mencicil rumah sendiri di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, sebagai wujud kemandirian. Yang lebih mengagumkan, setelah cicilan rumah itu lunas, ia menghibahkannya secara cuma-cuma untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama.
Saifuddin Zuhri menghembuskan napas terakhir pada 25 Februari 1986, setelah berjuang melawan penyakit. Meskipun puluhan tahun telah berlalu sejak ia pensiun dari jabatannya, warisan integritas tanpa kompromi dan kesederhanaan sejati yang ia tunjukkan tetap abadi, menjadi teladan berharga bagi setiap pejabat di negeri ini.






