Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kontras dibandingkan dengan bursa saham lainnya di kawasan Asia pada perdagangan sesi I, Selasa (22/9/2026). Di saat indeks saham negara tetangga justru bergerak menguat, pasar modal Indonesia justru terjun bebas dan mengalami koreksi yang cukup dalam.
Berdasarkan data perdagangan siang ini, IHSG merosot tajam sebesar 71,16 poin atau setara dengan penurunan 1,11 persen. Penurunan ini membawa indeks ke level 6.313,57. Kondisi ini terasa sangat ironis mengingat bursa-bursa utama di Asia lainnya justru menunjukkan tren positif. Sebagai perbandingan, indeks Nikkei di Jepang melesat naik 1,38 persen, Hang Seng (HSI) di Hong Kong tumbuh tipis 0,13 persen, dan bursa Shanghai di China juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,1 persen.
Penyebab utama jatuhnya IHSG siang ini didominasi oleh tekanan hebat di sektor energi yang anjlok hingga 3,07 persen. Selain itu, sektor real estate turut memberikan tekanan dengan penurunan sebesar 1,5 persen, disusul oleh sektor utilitas yang terkoreksi 1,2 persen.
Also Read
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa fenomena underperform atau kinerja yang lebih buruk dibandingkan bursa Asia lainnya ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang kurang bersahabat. Menurutnya, investor saat ini sedang berada dalam mode waspada dan cenderung melakukan aksi jual.
"Investor masih menakar risiko dan menunggu hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Selain itu, pelemahan nilai tukar Rupiah serta harga minyak yang masih tinggi turut membebani pasar," ujar Lukman saat memberikan keterangan kepada jabarpos.id.
Lebih lanjut, Lukman menambahkan bahwa tekanan juga datang dari aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya di sektor energi dan perbankan. Dari sisi global, sikap hawkish dari The Fed serta imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang bertahan di level mendekati 5 persen membuat investor cenderung menghindari aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia.
Menariknya, penguatan di bursa regional seperti Jepang dan China didorong oleh reli saham sektor teknologi dan semikonduktor akibat optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI). Namun, Lukman mencatat bahwa tren AI ini tidak memberikan dampak signifikan bagi IHSG karena eksposur saham teknologi dan semikonduktor di pasar modal Indonesia relatif kecil.
Senada dengan hal tersebut, analis dari MNC Sekuritas, Herditya, menilai bahwa IHSG memang tengah berada dalam tren penurunan. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya eskalasi geopolitik antara Rusia dan Ukraina, serta ketidakpastian situasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Hingga berita ini diturunkan, nilai tukar Rupiah juga terpantau masih mengalami tekanan terhadap Dollar AS, dengan posisi berada di level Rp 17.897 per USD. Situasi ini diprediksi akan terus membuat pelaku pasar di tanah air bersikap konservatif dalam mengambil keputusan investasi.






