Rupiah Tertekan Dolar AS Menanti Keputusan BI

Author Image

Endang Wulansari

23 September 2026, 04:04 WIB

Jabarpos.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren negatif dalam perdagangan Selasa (22/9/2026). Mata uang Garuda tersebut harus menutup sesi perdagangan di zona merah setelah mengalami pelemahan sebesar 0,14 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar yang tengah menanti langkah strategis Bank Indonesia (BI) terkait kebijakan suku bunga acuan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp17.850 per dolar AS. Meski ditutup melemah, performa akhir ini sebenarnya menunjukkan sedikit perbaikan dibandingkan saat pembukaan pasar. Pada awal perdagangan, rupiah sempat terdepresiasi lebih dalam sebesar 0,20 persen ke posisi Rp17.860 per dolar AS.

Rupiah Tertekan Dolar AS Menanti Keputusan BI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Fluktuasi nilai tukar terlihat cukup dinamis sepanjang hari. Sempat terjadi tekanan hebat yang membuat dolar AS menyentuh angka Rp17.896, namun rupiah berhasil melakukan aksi pemulihan dengan memangkas pelemahannya hingga 46 poin sebelum bel penutupan berbunyi. Di sisi lain, kekuatan dolar AS secara global melalui indeks dolar (DXY) juga terpantau menguat tipis 0,05 persen ke level 100,481 pada pukul 15.00 WIB.

Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu (22-23 September 2026). Keputusan krusial mengenai suku bunga acuan dijadwalkan akan diumumkan pada esok hari. Berdasarkan hasil jajak pendapat terhadap 11 lembaga keuangan, mayoritas responden atau sebanyak delapan institusi memprediksi BI akan tetap mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen. Sementara itu, tiga lembaga lainnya memperkirakan adanya kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen.

Jika BI memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga, maka ini akan menjadi kali ketiga berturut-turut BI mempertahankan tingkat bunga di level 5,75 persen, menyusul kebijakan serupa pada pertemuan bulan Juli dan Agustus lalu.

Menanggapi situasi ini, ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, berpendapat bahwa prioritas utama Bank Indonesia saat ini adalah menjaga stabilitas pasar keuangan, khususnya nilai tukar rupiah agar tidak semakin terpuruk. Menurutnya, BI memiliki ruang untuk tetap mendukung pertumbuhan ekonomi domestik melalui instrumen lain meskipun suku bunga tidak dinaikkan.

"Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di dalam negeri, BI dapat mengambil langkah dengan melonggarkan kebijakan makroprudensial serta memperkuat efektivitas sistem pembayaran nasional," ujar Juniman.

Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh dinamika pasar global. Dolar AS mendapatkan momentum penguatan setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), memberikan sinyal terkait kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Data dari CME FedWatch menunjukkan bahwa pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 55 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan Oktober mendatang, sebuah kenaikan signifikan dibandingkan minggu sebelumnya yang hanya berada di angka 43 persen.

Related Post