Jabarpos.id – Dunia korporasi tanah air dikejutkan dengan kabar mendadak dari salah satu pemain lama di industri alas kaki, PT Sepatu Bata Tbk (BATA). Pucuk pimpinan perusahaan tersebut, Amitav Nandy, secara resmi menyatakan keinginannya untuk melepaskan jabatan strategisnya sebagai Presiden Direktur. Kabar ini menjadi sorotan tajam bagi para investor dan pengamat pasar modal yang tengah memantau pergerakan emiten sepatu legendaris ini.
Berdasarkan informasi resmi yang dihimpun melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen BATA telah menerima surat pengunduran diri tersebut pada tanggal 23 September 2026. Langkah ini diambil di tengah dinamika industri ritel yang terus berubah, sehingga pergeseran kepemimpinan di level tertinggi perusahaan tentu menjadi perhatian serius bagi publik.
Lantas, apa alasan di balik keputusan mengejutkan ini? Manajemen perusahaan memberikan penjelasan singkat namun padat terkait alasan mundurnya sang pemimpin. Pengunduran diri Amitav Nandy dikaitkan dengan adanya kebijakan internal berupa rotasi jabatan di lingkup Bata Group secara global. Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan tersebut merupakan bagian dari strategi penataan ulang struktur organisasi di tingkat grup, bukan karena adanya konflik internal maupun masalah kinerja di level perseroan.
Also Read
Meskipun surat pengunduran diri sudah diterima oleh pihak manajemen, proses ini belum sepenuhnya tuntas secara administratif. Sesuai dengan aturan tata kelola perusahaan yang berlaku, permohonan pengunduran diri Amitav Nandy masih harus melewati mekanisme formal. Keputusan final mengenai status jabatan tersebut nantinya akan ditentukan melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Perseroan.
Jika menilik rekam jejaknya di perusahaan ini, masa jabatan Amitav Nandy tergolong cukup singkat namun krusial. Ia sebelumnya resmi diangkat sebagai Presiden Direktur BATA melalui keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diselenggarakan pada 25 September 2025. Dengan demikian, pergeseran kepemimpinan ini terjadi hanya dalam kurun waktu satu tahun sejak ia memegang kendali tertinggi di perusahaan.
Pasca pengumuman ini, pasar kini menanti siapa sosok yang akan menggantikan posisi Amitav untuk menahkodai BATA di masa depan. Perubahan kepemimpinan di perusahaan terbuka seperti BATA biasanya akan berdampak pada sentimen harga saham di bursa. Para investor kini tengah menunggu hasil RUPS untuk melihat bagaimana arah kebijakan baru yang akan diambil oleh manajemen guna menjaga stabilitas bisnis perusahaan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen belum memberikan detail lebih lanjut mengenai calon pengganti atau rencana strategis jangka pendek pasca rotasi ini. Namun, satu hal yang pasti, langkah rotasi di level Bata Group ini akan menjadi babak baru bagi perjalanan panjang merek sepatu yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia tersebut.





