Jabarpos.id – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan resmi membuka masa penawaran instrumen investasi terbaru, Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015T2 dan SBR015T4, mulai Senin (28/9/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya memperkuat basis investor domestik sekaligus memberikan opsi investasi yang aman dan menguntungkan bagi masyarakat luas.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menyatakan optimisme tinggi bahwa produk surat utang negara ini akan disambut antusias oleh publik. Pemerintah mematok target ambisius sebesar Rp20 triliun dari hasil penjualan dua seri SBR ini. Angka tersebut dinilai sangat realistis mengingat tren minat masyarakat terhadap Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang terus menunjukkan grafik positif sepanjang tahun.
"Kami sangat optimis SBR015 akan mendapatkan respons yang sangat baik dari masyarakat," ujar Suminto saat memberikan keterangan kepada jabarpos.id.
Also Read
Salah satu daya tarik utama yang ditawarkan adalah besaran kupon atau imbal hasil yang kompetitif. Untuk seri SBR015T2, pemerintah menawarkan kupon awal sebesar 6,75%, sementara untuk seri SBR015T4, imbal hasilnya sedikit lebih tinggi yakni mencapai 6,85%. Menariknya, instrumen ini menggunakan skema floating with floor. Artinya, besaran kupon akan bersifat fleksibel mengikuti perkembangan suku bunga Bank Indonesia (BI-Rate), namun tetap memiliki batas bawah (floor) sehingga investor tidak akan mengalami penurunan imbal hasil di bawah angka minimal yang telah ditetapkan.
Selain aspek keuntungan, faktor keamanan menjadi nilai jual utama. Suminto menegaskan bahwa seluruh pembayaran pokok serta kupon dijamin sepenuhnya oleh negara melalui ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini memberikan rasa tenang bagi investor, terutama di tengah fluktuasi kondisi ekonomi global.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba berinvestasi, ambang batas modal yang dibutuhkan tergolong sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp1 juta saja. Pemerintah juga menyediakan fasilitas early redemption, yang memungkinkan investor mencairkan sebagian investasinya sebelum masa jatuh tempo sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Masa penawaran ini akan berlangsung hingga 28 Oktober 2026. Hasil penjualan secara resmi akan ditetapkan pada 26 Oktober 2026, dengan tanggal setelmen pada 28 Oktober 2026. Untuk distribusi keuntungan, pemerintah akan mulai membayarkan kupon pertama pada 10 Desember 2026, dan selanjutnya akan dibayarkan secara rutin setiap tanggal 10 setiap bulannya.
Proses pembelian pun dibuat sangat praktis melalui sistem digital. Masyarakat dapat melakukan pemesanan secara daring melalui 29 mitra distribusi resmi yang telah ditunjuk, mulai dari bank umum ternama, perusahaan efek, hingga platform financial technology (fintech) seperti Bibit dan Bareksa. Tahapan pembelian meliputi registrasi, pemesanan, pembayaran, hingga konfirmasi akhir melalui sistem elektronik yang terintegrasi.






