Jabarpos.id – Pemerintah Indonesia kembali mengambil langkah strategis untuk memperkuat struktur pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026. Pada perdagangan hari ini, Selasa (29/9/2026), otoritas keuangan dijadwalkan menggelar lelang besar-besaran terhadap sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi Rupiah.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memenuhi target pembiayaan negara yang telah direncanakan. Dalam pengumuman resmi dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemerintah menargetkan perolehan dana indikatif sebesar Rp30 triliun. Namun, pemerintah juga membuka peluang untuk menyerap dana hingga maksimal 150 persen dari target awal tersebut, tergantung pada antusiasme pasar.
Mekanisme lelang ini akan dijalankan melalui sistem pelelangan terbuka (open auction) yang difasilitasi oleh Bank Indonesia. Adapun metode harga yang digunakan adalah multiple price, di mana setiap penawaran akan dinilai berdasarkan harga yang diajukan oleh masing-masing peserta. Pelaksanaan lelang ini sepenuhnya mengacu pada regulasi yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.08/2019 mengenai tata cara lelang Surat Utang Negara di pasar perdana domestik.
Also Read
Rincian instrumen yang ditawarkan mencakup berbagai jangka waktu. Untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek, pemerintah menawarkan tiga seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN), yakni seri SPN01261031, SPN03261230, dan SPN12270930. Sementara itu, untuk menarik minat investor jangka panjang, tersedia enam seri obligasi negara (FR) yang meliputi seri FR0110, FR0111, FR0112, FR0107, FR0102, dan FR0105.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat variasi tingkat imbal hasil atau kupon yang ditawarkan. Seri FR0110 mencatatkan tingkat kupon tertinggi sebesar 7,25 persen dengan tanggal jatuh tempo pada 15 Mei 2022. Di sisi lain, seri FR0102 dan FR0105 menawarkan tingkat kupon yang lebih rendah, yakni berada di angka 6,87 persen.
Dalam proses lelang ini, terdapat dua jenis mekanisme penawaran bagi para pemenang. Investor yang mengajukan penawaran kompetitif (competitive bids) akan membayar sesuai dengan tingkat imbal hasil (yield) yang mereka ajukan sendiri. Sedangkan bagi investor yang menggunakan penawaran non-kompetitif (non-competitive bids), harga yang dibayarkan akan mengikuti rata-rata tertimbang (weighted average yield) dari seluruh penawaran kompetitif yang dinyatakan menang dalam lelang tersebut.
Pemerintah memberikan fleksibilitas penuh untuk menentukan jumlah akhir penjualan, baik lebih besar maupun lebih kecil dari target Rp30 triliun yang telah ditetapkan. Setiap unit surat utang ini memiliki nilai nominal sebesar Rp1.000.000,00.
Meskipun secara prinsip seluruh pihak, baik investor perorangan maupun institusi, diperbolehkan untuk mengajukan penawaran, namun secara teknis penyampaian bids harus dilakukan melalui peserta lelang resmi. Daftar peserta lelang ini mencakup deretan dealer utama seperti Citibank N.A., Deutsche Bank AG, hingga bank-bank besar dalam negeri seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Central Asia Tbk. Selain itu, Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga terlibat dalam ekosistem lelang ini.
Proses lelang dijadwalkan akan ditutup pada pukul 11.00 WIB hari ini, dengan tanggal penyelesaian atau setelmen yang direncanakan jatuh pada Kamis, 1 Oktober 2026. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas arus kas negara dalam menjalankan program-program pembangunan nasional.






