Jabarpos.id – Langkah besar tengah disiapkan oleh Saiko Consultancy Pte. Ltd., perusahaan asal Singapura, untuk memperkuat dominasinya di PT Hassana Boga Sejahtera Tbk. (NAYZ). Sebagai pengendali baru, perusahaan asal Negeri Singa tersebut secara resmi mengumumkan rencana untuk melakukan penawaran tender wajib (mandatory tender offer) terhadap saham NAYZ. Langkah ini menjadi sinyal kuat adanya transformasi besar di dalam tubuh perusahaan yang bergerak di industri makanan bayi tersebut.
Dalam aksi korporasi yang ambisius ini, Saiko Consultancy menyiapkan dana jumbo mencapai Rp87,67 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk menyerap hingga 1,17 miliar lembar saham, atau setara dengan 45,84% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh milik NAYZ. Berdasarkan data keterbukaan informasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), proses penawaran ini akan dikelola melalui PT Saiko Consultancy Grand (SCG), yang merupakan anak perusahaan Saiko Consultancy dengan kepemilikan saham mencapai 99,98%.
Rencananya, periode penawaran tender wajib ini akan berlangsung selama 30 hari, terhitung mulai tanggal 5 Oktober hingga 3 November 2026. Bagi para pemegang saham yang ingin berpartisipasi, pembayaran atas saham yang ditawarkan dijadwalkan akan diselesaikan paling lambat pada 10 November 2026.
Also Read
Aksi ini merupakan buntut dari transaksi pengambilalihan saham NAYZ yang terjadi pada 19 Agustus 2026 lalu. Saat itu, Saiko Consultancy telah membeli sebanyak 750 juta saham atau sekitar 29,41% dari total modal perusahaan dari pengendali lama, yakni PT Asia Intrainvesta, dengan harga Rp23,5 per saham. Namun, untuk penawaran tender wajib kali ini, harga yang ditawarkan jauh lebih tinggi, yakni sebesar Rp75 per saham. Angka ini ditetapkan dengan merujuk pada rata-rata harga tertinggi perdagangan harian NAYZ selama 90 hari sebelum pengumuman negosiasi, yang berada di level Rp74,45 per saham.
Jika seluruh saham dalam penawaran ini terserap habis, maka kepemilikan Saiko bersama SCG di NAYZ diproyeksikan akan melonjak drastis hingga mencapai 1,92 miliar saham atau setara dengan 75,26% dari total modal perseroan.
Transformasi ini bukan sekadar perpindahan kepemilikan. Saiko mengungkapkan bahwa tujuan utama akuisisi ini adalah untuk ekspansi bisnis secara masif. Fokus pengembangan ke depan akan diarahkan pada sektor telekomunikasi dan teknologi, sebuah bidang yang menjadi keahlian utama dari pihak pengendali baru. Hal ini menandakan adanya pergeseran arah bisnis NAYZ yang sebelumnya fokus pada produk makanan pendamping ASI (MP-ASI) organik, menuju industri berbasis teknologi tinggi.
Meskipun akan ada perubahan fokus bisnis dan potensi penambahan modal melalui mekanisme inbreng, Saiko menegaskan bahwa saat ini belum ada rencana untuk melakukan delisting (penghapusan pencatatan saham) dari BEI, mengubah status menjadi perusahaan tertutup (go private), maupun melakukan likuidasi. Langkah strategis ini diharapkan mampu mendongkrak kinerja dan nilai perusahaan di masa depan.






