7 Perusahaan Siap Melantai di Bursa

Author Image

Endang Wulansari

7 Oktober 2026, 04:04 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia bersiap menyambut gelombang baru emiten yang akan melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada kuartal keempat tahun ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa saat ini terdapat tujuh perusahaan yang tengah mengantre untuk mencatatkan saham mereka di lantai bursa.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menjelaskan bahwa tujuh perusahaan tersebut saat ini sudah masuk dalam daftar tunggu atau pipeline pencatatan saham. Kehadiran calon emiten baru ini diharapkan dapat memberikan warna baru dan memperkuat likuiditas di pasar modal tanah air.

7 Perusahaan Siap Melantai di Bursa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menariknya, dari tujuh calon emiten yang sedang bersiap tersebut, terdapat keberagaman skala aset yang cukup mencolok. Saidu merinci bahwa dua di antaranya merupakan perusahaan dengan aset jumbo atau skala besar, yakni memiliki nilai aset di atas Rp250 miliar. Selain itu, terdapat tiga perusahaan dengan skala aset menengah yang berkisar antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, serta dua perusahaan dengan skala aset kecil di bawah Rp50 miliar.

Jika meninjau dari sektor industrinya, calon emiten yang akan melantai ini didominasi oleh sektor kesehatan dengan jumlah empat perusahaan. Disusul oleh sektor energi yang terdiri dari dua perusahaan, dan satu perusahaan dari sektor industri.

Meskipun ada optimisme dari tujuh calon emiten ini, data menunjukkan bahwa aktivitas IPO secara keseluruhan mengalami tantangan berat. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, jumlah perusahaan yang melakukan IPO hingga Agustus 2026 mengalami penurunan drastis sebesar 68,2 persen. Pada periode Januari hingga Agustus 2025, tercatat ada 22 perusahaan yang melantai, sementara tahun ini jumlahnya menyusut signifikan.

Penurunan ini juga berdampak langsung pada perolehan dana yang dihimpun. Total dana yang berhasil dikumpulkan dari aksi IPO anjlok sekitar 79,2 persen, dari yang sebelumnya mencapai Rp10,39 triliun pada tahun lalu, menjadi hanya Rp2,16 triliun pada tahun ini.

Menanggapi fenomena ini, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa dinamika pasar global menjadi salah satu faktor utama. Ketidakpastian geopolitik dunia membuat banyak perusahaan cenderung lebih berhati-hati dalam menentukan waktu (timing) yang tepat untuk melakukan penawaran umum.

Hasan menegaskan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak hanya berfokus pada kuantitas atau jumlah perusahaan yang melantai, melainkan lebih mengutamakan kualitas dan total penghimpunan dana. OJK sendiri tetap mematok target ambisius penghimpunan dana pasar modal sebesar Rp250 triliun pada tahun 2026. Hingga awal September 2026, realisasi penghimpunan dana telah menyentuh angka Rp148,3 triliun.

"Dalam upaya mencapai target tersebut, OJK akan selalu mengedepankan aspek kualitas keterbukaan informasi serta memastikan kesiapan setiap calon emiten sebelum masuk ke bursa," ujar Hasan.

Meski jumlah IPO menurun, minat investor terhadap saham-saham baru sebenarnya masih terlihat cukup tinggi. Beberapa saham yang melakukan debut di tahun 2026 masih mampu mencatatkan lonjakan harga yang signifikan setelah resmi diperdagangkan. Untuk terus mendorong pertumbuhan, OJK bersama BEI berkomitmen melakukan berbagai sosialisasi dan coaching clinic ke berbagai daerah guna menjaring perusahaan potensial agar siap melantai di bursa.

Related Post