Asing Jual Masif Tapi 5 Saham Ini Malah Diborong

Author Image

Endang Wulansari

7 Oktober 2026, 04:31 WIB

Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang cukup impresif pada perdagangan sesi pertama hingga Selasa (6/10/2026). Meskipun pasar sedang dibayangi oleh aksi jual besar-besaran oleh investor mancanegara, indeks justru berhasil menguat ke level 6.196,09. Kenaikan ini setara dengan pertumbuhan sebesar 77,23 poin atau naik sekitar 1,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Namun, di balik penguatan indeks tersebut, terdapat dinamika menarik pada arus modal asing. Berdasarkan data dari Stockbit Sekuritas, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) dengan nilai mencapai Rp273,81 miliar. Secara mendetail, total transaksi pembelian oleh investor asing menyentuh angka Rp1,85 triliun, sementara nilai penjualan mereka melonjak hingga Rp2,12 triliun.

Asing Jual Masif Tapi 5 Saham Ini Malah Diborong
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menariknya, di tengah gelombang aksi jual tersebut, terdapat lima emiten yang justru menjadi incaran dan diborong oleh investor asing. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) memimpin daftar tersebut dengan nilai pembelian mencapai Rp57,22 miliar dengan volume sebanyak 18,16 juta saham.

Selain BBRI, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) juga mencatatkan kenaikan minat asing dengan nilai transaksi Rp25,63 miliar. Disusul oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sebesar Rp17,88 miliar, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) senilai Rp16,62 miliar, serta PT Foresight Resources Tbk. (FORU) dengan nilai Rp13,87 miliar.

Sebaliknya, beberapa saham raksasa justru mengalami tekanan akibat aksi lepasnya kepemilikan asing. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) menjadi yang paling terdampak dengan nilai penjualan mencapai Rp111,55 miliar. Sektor perbankan dan telekomunikasi juga tidak luput dari tekanan, di mana PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dilepas sebesar Rp48,04 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp38,36 miliar, serta PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) senilai Rp30,06 miliar.

Kondisi pasar global saat ini tengah dipengaruhi oleh beragam sentimen ekonomi. Di Jepang, aktivitas sektor jasa dilaporkan melambat yang berdampak pada penurunan kepercayaan konsumen. Sementara di zona Euro, meskipun sektor jasa menguat, kenaikan harga produsen memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi yang belum mereda, sehingga risiko pengetatan kebijakan moneter tetap membayangi.

Fokus pasar global juga tertuju pada pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda serta rilis data neraca perdagangan Amerika Serikat. Kondisi pasar obligasi AS juga sedang memanas, ditandai dengan lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury tenor panjang ke level tertinggi dalam dua dekade terakhir. Imbal hasil Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5,349%, level tertinggi sejak April 2002.

Di sisi domestik, pasar modal Indonesia tengah bersiap menyambut gelombang penawaran umum. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada sekitar 29 rencana penawaran umum yang sedang mengantre dengan nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia masih sangat mengandalkan pasar modal sebagai instrumen utama untuk memperkuat pendanaan korporasi mereka.

Related Post