Euro Terpuruk Akibat Krisis Obligasi Prancis

Author Image

Endang Wulansari

7 Oktober 2026, 02:04 WIB

Jabarpos.id – Mata uang tunggal Eropa, Euro, tengah menghadapi badai hebat setelah nilainya merosot tajam ke level terendah dalam 17 bulan terakhir terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan ini tidak datang dari faktor tunggal, melainkan kombinasi antara guncangan di pasar obligasi Prancis dan ketidakpastian politik yang mulai membayangi kawasan zona euro.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, nilai tukar euro sempat menyentuh angka US$1,116 di pasar London, sebuah penurunan sebesar 0,8% dalam waktu singkat. Jika ditarik dalam rentang waktu satu tahun, euro tercatat telah mengalami koreksi nilai sebesar 4,5% terhadap dolar AS. Kondisi ini mempertegas posisi dolar yang semakin dominan di pasar global.

Euro Terpuruk Akibat Krisis Obligasi Prancis
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penyebab utama dari anjloknya mata uang ini adalah aksi jual besar-besaran terhadap obligasi pemerintah Prancis. Para investor tampak mulai kehilangan kepercayaan terhadap stabilitas fiskal negara tersebut. Hal ini terlihat dari lonjakan yield (imbal hasil) obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun yang merangkak naik mendekati angka 5%. Lonjakan ini merupakan yang paling signifikan di antara negara-negara anggota G7 sejak periode awal tahun ini.

Analis senior dari MUFG, Lee Hardman, mengungkapkan bahwa pasar sedang dilanda kekhawatiran mendalam terkait memburuknya kondisi keuangan di zona euro. Masalah utang Prancis dianggap sebagai pemicu utama yang dapat merembet ke negara-negara tetangga, termasuk Italia. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan terjadi risiko fragmentasi di mana kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) tidak lagi efektif menjangkau seluruh negara anggota secara merata.

Selain masalah ekonomi, faktor politik turut memperkeruh suasana. Menjelang pemilihan presiden Prancis tahun depan, muncul kekhawatiran bahwa naiknya partai-partai populis akan membuat kebijakan fiskal negara tersebut semakin tidak menentu. Ketidakpastian ini diperparah dengan situasi politik di Spanyol yang juga sedang memanas akibat dinamika pemilu dadakan.

Eric Robertsen, ahli strategi dari Standard Chartered, menilai bahwa Prancis saat ini tampak kesulitan, baik dari segi kemauan maupun kemampuan, untuk memperbaiki defisit anggaran mereka. Hal senada juga disampaikan oleh manajer investasi Vanguard yang memperingatkan adanya penurunan kualitas kredit Prancis, yang kini menjadi pusat perhatian risiko utang di Eropa.

Kondisi ini juga mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga ECB. Jika sebelumnya pasar memprediksi akan ada tiga kali kenaikan suku bunga dalam setahun ke depan, kini ekspektasi tersebut menyusut menjadi hanya dua kali kenaikan. Hal ini tentu tidak memberikan dukungan yang kuat bagi penguatan nilai tukar euro.

Di sisi lain, mata uang Franc Swiss justru menguat sebagai aset aman (safe haven) di tengah kekacauan ini. Meskipun beberapa analis menilai situasi saat ini belum sepenuhnya menyerupai krisis utang zona euro tahun 2012, namun ketidakpastian yang ada membuat para pelaku pasar tetap bersikap sangat waspada terhadap masa depan ekonomi Eropa.

Related Post