Misi Indonesia Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah

Author Image

Endang Wulansari

22 Oktober 2026, 08:04 WIB

Jabarpos.id – Masa depan ekonomi Indonesia diprediksi akan terus melesat menuju puncak kejayaan. Asian Development Bank (ADB) menyatakan optimisme tinggi bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap. Hal ini menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.

Direktur ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, menegaskan bahwa prospek ekonomi nasional sangat cerah. Menurutnya, pertumbuhan yang stabil akan membuat status klasifikasi negara berkembang (DMC) Indonesia terus merangkak naik, bukan justru menurun.

Misi Indonesia Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Tidak akan ada penurunan status dalam waktu dekat, melainkan hanya akan naik kelas," tegas Bobur saat ditemui di kawasan IPAL Losari, Makassar, Rabu (21/10/2026).

Bobur membagikan pengalamannya yang telah mengamati perkembangan Indonesia selama dua dekade. Ia mencatat transformasi nyata yang terjadi di tanah air, mulai dari kemajuan infrastruktur transportasi seperti MRT hingga peningkatan fasilitas kesehatan yang jauh lebih modern dibandingkan 20 tahun lalu.

Menariknya, Bobur menyebutkan bahwa negara-negara lain di kawasan Asia kini mulai melirik Indonesia. Banyak negara tetangga yang ingin mempelajari "resep sukses" pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang menurutnya merupakan sinyal positif bagi posisi tawar Indonesia di mata dunia.

Namun, di balik optimisme tersebut, ADB memberikan catatan penting terkait kesehatan fiskal, khususnya mengenai rasio pajak. Bobur mengungkapkan bahwa selama 20 tahun terakhir, rasio pajak Indonesia cenderung stagnan di angka 9 persen. Angka ini dinilai masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Kamboja yang telah mencapai 18 persen.

"Masalahnya bukan pada mengejar pajak dari sektor informal kecil, melainkan pada optimalisasi penerimaan dari perusahaan-perusahaan besar. Jika penerimaan pajak meningkat, pemerintah memiliki lebih banyak ruang fiskal untuk memberikan stimulus ekonomi," jelasnya.

Untuk memacu pertumbuhan hingga mencapai angka 8-9 persen—seperti yang pernah dilakukan Korea Selatan—Indonesia harus fokus pada dua pilar utama: kualitas sumber daya manusia (SDM) dan industri bernilai tambah tinggi.

Pemerintah kini tengah gencar melakukan investasi jangka panjang melalui program penguatan SDM sejak dini, seperti penanganan stunting dan peningkatan akses pendidikan. Menurut Bobur, tanpa investasi pada anak-anak saat ini, cita-cita menjadi negara berpenghasilan tinggi akan sulit tercapai.

Selain itu, transformasi industri manufaktur juga menjadi sorotan. Indonesia diharapkan mampu menggeser fokus dari manufaktur rendah ke manufaktur bernilai tinggi, seperti industri semikonduktor atau produksi chip. Saat ini, kontribusi manufaktur masih berada di kisaran 9 persen, sementara target idealnya adalah 20 persen.

ADB sendiri berkomitmen untuk terus mendampingi perjalanan Indonesia. Target akhirnya adalah suatu saat nanti, Indonesia sudah mampu mandiri secara finansial dan tidak lagi membutuhkan bantuan pendanaan dari lembaga internasional karena sudah memiliki peringkat kredit tertinggi.

Related Post