Saham Turun Belum Tentu Murah

Author Image

Endang Wulansari

26 Oktober 2026, 04:31 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi dinamika yang cukup menantang. Belakangan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) diwarnai oleh aksi jual yang membuat harga banyak saham berguguran. Fenomena ini dipicu oleh adanya sentimen negatif terkait usulan MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia, dari yang sebelumnya masuk kategori emerging market menjadi standalone market. Perubahan status ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, sehingga banyak investor yang memilih untuk menarik diri dari pasar.

Menanggapi situasi tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memberikan peringatan penting bagi para pelaku pasar. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengingatkan agar investor tidak terjebak dalam euforia atau kepanikan saat melihat harga saham yang sedang merosot. Menurutnya, penurunan harga saham tidak secara otomatis menjadi indikator bahwa sebuah saham sudah layak untuk dibeli atau sudah murah.

Saham Turun Belum Tentu Murah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pandu menekankan bahwa keputusan investasi harus didasarkan pada analisis fundamental yang mendalam, bukan sekadar melihat angka di layar perdagangan. Investor disarankan untuk lebih jeli dalam membedah kesehatan perusahaan secara menyeluruh. "Investor perlu memperhatikan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis, arus kas, tingkat utang, serta kualitas tata kelola sebelum mengambil keputusan investasi," ujar Pandu dalam sebuah pernyataan yang dikutip pada Jumat (23/10/2026).

Lebih lanjut, Pandu menjelaskan bahwa strategi investasi yang bijak adalah mencari perusahaan yang memiliki profitabilitas kuat namun tetap menawarkan valuasi yang menarik. Ia memberikan gambaran konkret mengenai kondisi pasar saat ini. Berdasarkan data yang dihimpun, dari 146 emiten yang memiliki pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, terdapat 61 perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian ekuitas atau Return on Equity (ROE) di atas 15 persen.

Menariknya, peluang emas ini ditemukan di sektor-sektor vital seperti perbankan dan konsumsi. Di sektor tersebut, ditemukan perusahaan dengan ROE mencapai angka 20 persen, namun memiliki rasio Price to Earnings (PE) yang masih di bawah 10 kali. Ini menunjukkan adanya potensi keuntungan besar bagi investor yang mampu melihat peluang di tengah guncangan pasar.

Namun, Pandu memberikan catatan penting bahwa indikator valuasi seperti ROE, PE, maupun Price to Book Value (PBV) tidak boleh dilihat secara parsial atau terpisah. Investor harus mampu mengombinasikan kualitas bisnis dengan harga saham secara bersamaan. Jangan sampai investor hanya terpaku pada harga saham yang rendah, namun ternyata perusahaan tersebut memiliki fundamental yang rapuh atau manajemen yang buruk.

"Koreksi harga saham perlu dilihat secara lebih menyeluruh, bukan semata-mata sebagai sinyal bahwa saham telah menjadi murah. Peluangnya juga tersebar di berbagai sektor. Jadi intinya, lihat kualitas bisnis dan harganya secara bersamaan, bukan hanya mengikuti sentimen pasar," tutup Pandu. Dengan pendekatan ini, investor diharapkan dapat tetap tenang dan mampu memilah emiten berkualitas tinggi di tengah ketidakpastian pasar modal saat ini.

Related Post