IHSG Terjun Bebas ke Level 5.266

Author Image

Endang Wulansari

28 Oktober 2026, 00:31 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali mengalami guncangan hebat pada penutupan perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus menyerah dan berakhir di zona merah dengan penurunan yang cukup signifikan. Indeks ditutup pada level 5.266,13, merosot tajam sebanyak 106,96 poin atau setara dengan pelemahan 1,99 persen.

Perjalanan IHSG sepanjang hari ini tergolong sangat fluktuatif. Sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi pada pukul 09.00 WIB, indeks sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda tekanan dengan memulai hari di level 5.357,97. Sempat ada harapan bagi para investor ketika indeks mencoba melakukan penguatan di awal sesi dan berhasil menyentuh level tertinggi harian di angka 5.418,14. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama.

IHSG Terjun Bebas ke Level 5.266
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Memasuki sesi siang, tren positif tersebut berbalik arah. Indeks mulai merosot secara bertahap, dan tekanan jual semakin masif setelah pukul 14.00 WIB. Kondisi pasar semakin memburuk hingga menyentuh titik terendah harian di level 5.182,37 sekitar pukul 15.30 WIB. Meski demikian, menjelang penutupan, IHSG sempat melakukan aksi rebound tipis sebesar 83,76 poin, sehingga mampu menutup hari di level 5.266,13. Total nilai transaksi yang berputar di bursa mencapai Rp16,23 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 337,63 juta lot.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), dominasi sentimen negatif terlihat dari jumlah saham yang bergerak. Tercatat hanya 101 saham yang berhasil menguat, sementara 657 saham lainnya mengalami pelemahan, dan 215 saham lainnya stagnan atau tidak bergerak. Sektor infrastruktur menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan anjlok hingga 6,1 persen, disusul sektor material dasar yang turun 3,7 persen, serta sektor teknologi yang terkoreksi 2,9 persen. Beberapa saham raksasa yang menjadi beban berat bagi indeks antara lain TLKM, AMMN, BYAN, BREN, dan BRPT.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari kancah internasional, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama. Meskipun ada upaya diplomasi antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dengan pihak Iran di Teheran untuk meredakan konflik, ketidakpastian tetap tinggi. Ancaman serangan dari Amerika Serikat terhadap Iran serta dukungan militer Mesir untuk Arab Saudi menambah daftar risiko yang membayangi pasar.

Kondisi ini juga berdampak pada harga komoditas energi. Harga minyak mentah dunia, baik Brent maupun WTI, mengalami koreksi meski masih berada di level yang cukup tinggi. Hal ini menciptakan kewaspadaan ekstra bagi investor terkait stabilitas pasokan energi global.

Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah berupaya memperkuat struktur pasar melalui berbagai kebijakan baru. Mulai 2 November mendatang, BEI akan menerapkan aturan baru terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) yang akan dikecualikan dari penghitungan IHSG. Langkah ini diambil untuk meningkatkan transparansi, menjaga likuiditas, serta memperkuat kepercayaan investor terhadap integritas pasar modal Indonesia di tengah gejolak global yang terus terjadi.

Related Post