Peta Baru IHSG Pasca Perombakan Besar

Author Image

Endang Wulansari

2 November 2026, 15:04 WIB

Jabarpos.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja melakukan langkah strategis yang cukup mengejutkan pasar modal tanah air. Dalam perdagangan yang berlangsung pada Senin (2/11/2026), otoritas bursa secara resmi mencoret sejumlah saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Keputusan ini menandai babak baru dalam struktur indeks acuan pasar modal Indonesia. Tercatat, sebanyak 81 emiten yang sebelumnya masuk dalam perhitungan kini resmi dikeluarkan. Meski jumlahnya cukup banyak, total bobot dari 81 saham tersebut hanya berkisar 18% terhadap IHSG. Namun, yang menarik perhatian adalah nilai kapitalisasi pasarnya yang mencapai angka fantastis, yakni sekitar 30% dari total kapitalisasi pasar di bursa.

Peta Baru IHSG Pasca Perombakan Besar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menanggapi perubahan besar ini, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memberikan penegasan agar pelaku pasar tidak perlu merasa khawatir. Menurutnya, kebijakan ini dirancang untuk menjaga stabilitas pasar dan tidak akan memicu volatilitas ekstrem, baik berupa penurunan drastis maupun lonjakan harga yang tidak wajar pada indeks.

Jeffrey menjelaskan bahwa langkah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan sebelumnya, di mana saham-saham dengan karakteristik HSC juga telah dikecualikan dari indeks bergengsi lainnya seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. "Dalam implementasi awal, tentu tidak akan mengakibatkan penurunan drastis. Distribusi dari bobot yang dikeluarkan akan dialihkan kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen di dalam indeks," ungkap Jeffrey.

Perubahan struktur ini secara otomatis mengubah peta kekuatan emiten di dalam IHSG. Dengan keluarnya saham-saham HSC, bobot dari emiten-emiten besar yang masih bertahan kini mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan pengumuman resmi BEI melalui nomor Peng-00204/BEI.POP/10-2026, sektor perbankan masih menjadi penguasa utama di pasar modal Indonesia.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tetap menjadi pemimpin pasar dengan bobot masing-masing sebesar 9% dan 7,93%. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan kenaikan bobot yang cukup tajam menjadi 7,12% dari sebelumnya hanya 5,70%.

Selain sektor perbankan, sektor telekomunikasi dan industri juga mengalami penguatan bobot. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) kini memegang bobot 4,68%, disusul PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar 4,15%. Menariknya, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) juga mengalami kenaikan bobot menjadi 3,50%.

Berikut adalah daftar 10 emiten dengan bobot terbesar di IHSG pasca evaluasi:

  1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) – 9%
  2. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – 7,93%
  3. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) – 7,12%
  4. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) – 4,68%
  5. PT Astra International Tbk. (ASII) – 4,15%
  6. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) – 3,50%
  7. PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) – 3,24%
  8. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) – 2,61%
  9. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) – 1,95%
  10. PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA) – 1,86%

Related Post