IHSG Meroket Tembus Level 5000

Author Image

Endang Wulansari

6 November 2026, 06:04 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup sesi perdagangan dengan lonjakan signifikan sebesar 2,25 persen, atau bertambah 110,49 poin, hingga menyentuh level 5.030,26.

Sejak bel perdagangan pertama dibuka, optimisme investor sudah terlihat jelas. IHSG memulai hari pada level 4.998,34, yang berarti sudah menguat sekitar 78,57 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Menariknya, sepanjang sesi perdagangan, indeks tidak pernah menyentuh zona merah. Titik terendah hari ini tercatat pada level 4.995,46, namun angka tersebut masih berada di atas posisi penutupan pada hari Rabu.

IHSG Meroket Tembus Level 5000
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tren penguatan terus berlanjut hingga indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di angka 5.072,05, atau melonjak hingga 3,1 persen. Meski sempat mengalami sedikit koreksi menjelang penutupan pasar, IHSG tetap mampu bertahan kokoh di atas level psikologis 5.000. Aktivitas transaksi hari ini tergolong sangat ramai dengan volume mencapai 212,92 juta lot dan nilai transaksi mencapai Rp9,06 triliun.

Berdasarkan data dari Refinitiv, sektor teknologi menjadi mesin utama penggerak IHSG dengan kenaikan tajam mencapai 4,60 persen. Selain itu, sektor bahan baku (basic materials) dan sektor jasa pendidikan turut menyumbang penguatan masing-masing sebesar 3,48 persen dan 2,56 persen. Beberapa saham yang menjadi motor penggerak utama adalah BBCA, AMMN, TLKM, MDKA, dan BBNI. Di sisi lain, pergerakan indeks sempat tertahan oleh pelemahan pada saham BRPT, AADI, TPIA, EXCL, dan PANI.

Kenaikan tajam ini tidak lepas dari berbagai sentimen global yang memberikan angin segar bagi pasar keuangan. Salah satu faktor pendorong utama adalah dinamika politik di Amerika Serikat. Hasil pemilu paruh waktu (midterm elections) menunjukkan kemenangan telak bagi Partai Demokrat yang berhasil merebut kendali Senat dan DPR. Kemenangan ini dipandang sebagai upaya untuk membatasi kekuasaan Presiden Donald Trump, terutama terkait kebijakan luar negeri yang memicu inflasi.

Selain itu, anjloknya harga minyak mentah dunia menjadi katalis positif bagi pasar. Harga minyak Brent merosot 8,7 persen ke level US$94,62 per barel, sementara minyak WTI turun 8,3 persen ke US$88,12 per barel. Penurunan harga energi ini dipicu oleh ekspektasi bahwa dominasi politik Demokrat di AS akan membuka peluang negosiasi damai terkait konflik di Timur Tengah, yang pada akhirnya meredam ketegangan geopolitik dan menurunkan permintaan minyak.

Dari sisi ekonomi makro AS, data tenaga kerja menunjukkan ketahanan dengan penambahan 86.000 pekerjaan pada Oktober 2026, melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, defisit perdagangan AS juga dilaporkan menyusut tipis, yang memberikan sinyal stabilitas ekonomi global. Di dalam negeri, investor kini mulai mengalihkan perhatian pada rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 serta kebijakan perluasan bantuan BPJS Kesehatan sebagai indikator kekuatan daya beli domestik.

Related Post