Beranda / Berita / AirAsia Merugi Parah Terungkap Penyebabnya

AirAsia Merugi Parah Terungkap Penyebabnya

AirAsia Merugi Parah Terungkap Penyebabnya

Jabarpos.id – Kabar kurang sedap datang dari dunia penerbangan, PT AirAsia Indonesia Tbk. mencatatkan kerugian yang fantastis hingga kuartal III tahun 2025. Angka kerugian ini membengkak menjadi Rp 985,4 miliar, melonjak tajam sebesar 64,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 598,5 miliar.

Meskipun demikian, berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha AirAsia sebenarnya mengalami kenaikan menjadi Rp 6,02 triliun dari sebelumnya Rp 5,90 triliun.

AirAsia Merugi Parah Terungkap Penyebabnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, kenaikan pendapatan ini tidak mampu menutupi lonjakan beban usaha yang mencapai Rp 6,49 triliun, naik dari Rp 6,27 triliun. Salah satu faktor utama pembengkakan beban usaha ini adalah kerugian selisih kurs dari kegiatan operasional yang mencapai Rp 182,5 miliar, berbanding terbalik dengan periode sebelumnya yang mencatatkan laba sebesar Rp 72,3 miliar.

Baca juga:  OJK Rombak Total Aturan Asuransi dan Dana Pensiun

Akibatnya, rugi usaha AirAsia pada kuartal III tahun ini naik menjadi Rp 466,6 miliar dari sebelumnya Rp 366,6 miliar. Ditambah lagi, rugi selisih kurs dari aktivitas pendanaan yang mencapai Rp 178,8 miliar, membuat rugi sebelum beban pajak penghasilan membengkak menjadi Rp 982,5 miliar dari Rp 596,5 miliar.

Total aset AirAsia juga mengalami penyusutan menjadi Rp 5,6 triliun dari sebelumnya Rp 5,7 triliun. Defisiensi modal yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga membengkak menjadi Rp 10,4 triliun dari sebelumnya Rp 9,4 triliun.

Baca juga:  Kejutan! Perusahaan Energi China Incar Pengembang Properti Ansa Land?

Manajemen AirAsia mengakui bahwa volatilitas harga minyak dan kurs mata uang menjadi tantangan utama dalam industri penerbangan. Namun, perusahaan terus berupaya menyeimbangkan volatilitas tersebut dengan efisiensi operasional.

"Sampai dengan saat ini Perseroan senantiasa berupaya untuk menyeimbangkan volatilitas tersebut dengan efisiensi operasional Perseroan," tulis manajemen dalam keterangannya.

Meskipun menghadapi tantangan, manajemen AirAsia tetap optimis terhadap peluang bisnis di Indonesia. Mereka melihat bahwa penurunan jumlah pesawat yang beroperasi setelah pandemi justru menjadi peluang bagi AirAsia untuk berkontribusi dalam mengatasi kekurangan tersebut.

Baca juga:  Ciputra Life Tinggalkan Unit Link, Fokus Garap Produk Tradisional?

"Permintaan pasar akan terus ada, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan dengan populasi yang besar sehingga memiliki potensi pasar yang sangat besar dan melihat ketersediaan pesawat yang saat ini lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi," pungkas manajemen.