Beranda / Berita / Ekonomi China di Ujung Tanduk? Tiga Masalah Ini Jadi Sorotan Utama

Ekonomi China di Ujung Tanduk? Tiga Masalah Ini Jadi Sorotan Utama

Ekonomi China di Ujung Tanduk? Tiga Masalah Ini Jadi Sorotan Utama

Jabarpos.id – China menutup tahun 2025 dengan penuh percaya diri di kancah global, menjadi negara pertama yang membalas tarif AS dan gencar memanfaatkan logam tanah jarang. Namun, di balik gemilangnya performa teknologi dan persepsi positif global, muncul pertanyaan besar: Seberapa kuat sebenarnya ekonomi China saat ini?

Para pemimpin tertinggi China akan membahas rencana kebijakan untuk tahun 2026 dalam Konferensi Kerja Ekonomi Pusat mendatang. Acara tahunan ini akan menjadi penentu arah kebijakan ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Ekonomi China di Ujung Tanduk? Tiga Masalah Ini Jadi Sorotan Utama
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ekonom menyoroti tiga masalah utama yang diperkirakan akan menjadi fokus utama dalam pertemuan tersebut:

Baca juga:  Antam dan PTBA Jadi Persero Lagi? Fakta di Balik Perubahan yang Bikin Penasaran!

1. Sektor Properti yang Semakin Terpuruk

Krisis real estat China semakin dalam, dengan Vanke, raksasa properti yang dulunya ikonik, kini berjuang untuk menunda pembayaran obligasi. S&P Global Ratings bahkan menurunkan peringkat utang Vanke.

"Kepercayaan pembeli rumah di China sangat rapuh. Jika Vanke mengalami kesulitan pendanaan, sentimen pasar akan semakin terpukul," ujar Edward Chan, Direktur Corporate Ratings di S&P Global Ratings, kepada jabarpos.id.

Goldman Sachs mencatat penurunan penjualan rumah baru sebesar 20-30% dibandingkan tahun lalu. Analis Goldman Sachs memperkirakan akan ada langkah-langkah pelonggaran properti lainnya.

Baca juga:  Kaesang Diminta KPK Tunjukkan Bukti Bayar Jet Pribadi Jika Memang Bukan Gratifikasi

2. Konsumsi Domestik yang Loyo

Para pembuat kebijakan bertekad untuk mendorong konsumsi domestik. Enam kementerian merilis rencana besar untuk mengembangkan industri konsumen, namun detail implementasinya masih minim.

"Rencana ini sepenuhnya berfokus pada sisi penawaran," kata analis Goldman Sachs. Mereka menambahkan bahwa pertumbuhan konsumsi berkelanjutan memerlukan dukungan kebijakan untuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.

Kekhawatiran juga muncul dari rasio kredit macet rumah tangga yang mencapai 1,33% pada paruh pertama tahun ini, melebihi rasio korporasi.

3. Ancaman Deflasi Mengintai

Konsumen China semakin sadar harga, sementara perusahaan meningkatkan persaingan melalui pemotongan harga. Pertumbuhan penjualan acara belanja terbesar tahunan di China melambat.

Baca juga:  Polemik Pembubaran Diskusi Diaspora, Propam Polda Metro Jaya Periksa 11 Polisi Termasuk Kapolsek Mampang

Inflasi utama mendekati nol dalam beberapa bulan terakhir. Ekonom Nomura, Ting Lu, memperkirakan Beijing akan meningkatkan dukungan kebijakan pada musim semi untuk memulai rencana lima tahun mendatang dengan awal yang kokoh.

Data inflasi November akan dirilis pada 10 Desember, diikuti oleh data penjualan ritel, produksi industri, dan investasi pada 15 Desember. Data-data ini akan memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi ekonomi China saat ini.